Tomorrow still (seriously) be a mistery


 

What a nice day to start by chatting with an old friend,,,

 

Tersebutlah ‘Lulung’, seorang teman lama yang beberapa waktu lalu menelpon dan baru sempet hari ini saya telpon balik. Selayaknya teman lama yang sudah berbulan-bulan tidak meng-update kabar setelah partisipasinya dalam aktivitas Indonesia Mengajar, ternyata saat ini Lulung sedang berada di Kupang. Lulung mendapatkan bagian mengajar di Rote (sekitar 4 jam dari Kupang) dan disaat saya menelpon, Lulung sedang dalam perjalanan bermotor dari Kupang menuju Dili. Huwaaahhh… right on that time, saya langsung saja berteriak iri. What a nice and challenging journey!!

 

So, that was the beginning of our long chat. Seselesainya mengupdate kabar, sampai juga akhirnya ke topik curhat colongan sembari berbagi rencana masa depan. Well, saya tidak ingat kronologisnya seperti apa, yang pasti kami banyak bercerita tentang passion, gairah hidup, dan kebahagiaan.

 

So, tomorrow has always been a mistery..

That’s our job to plan what kind of future we want to see. Banyak orang bilang “udahlah, jangan terlalu banyak rencana, whatever will be, let it be. Lebih seru, lebih menantang.” Lah, memang lebih seru dan lebih memacu adrenalin sepertinya ketika kita bener-bener no idea about what future will bring to us, tapi kalau benar-benar tidak berencana sepertinya agak sedikit mengerikan, karena tidak semua masa depan itu menawarkan hal-hal yang mengejutkan dalam arti membahagiakan. Dengan menyiapkan rencana minimal kita bisa meminimalisir jika hal-hal yang tidak diinginkan terjadi bukan?? Beberapa orang lainnya berpendapat bahwa “hidup itu harus direncanakan sedetail-detailnya dan pastikan bahwa masa depan kita terjadi persis seperti yang kita rencanakan dan kita tuliskan selama ini.” Saya setuju… Tapi bukan berarti harus memaksa sang pemilik jagad raya untuk mengikuti rencana kita sama persis 100% plek plek lho ya. Lha, siapa kita memaksa DIA untuk mewujudkan 100% tidak berbeda dengan yang kita rencanakan?

 

Menurut saya, masa depan not an easy matter sampai-sampai kita pasrahkan hari esok tergantung pada kemana angin berhembus, dan masa depan juga bukan sesuatu hal yang benar-benar harus kita pikirkan hingga terbebani dan merasa berat menjalani prosesnya. Masa depan harus direncanakan dengan baik dan detail (dalam artian bahwa kita bisa menyiapkan minimal 3-5 langkah ke depan hasil dari masing-masing pilihan yang tersedia dalam chart grand design future plan kita) tapi tidak berarti kaku, masa depan harus punya variable kelenturan untuk siap dimodifikasi. Misalnya kita punya 2 pilihan A dan B, jangan sampai sebatas mempersiapkan pilihan berhasil atau tidaknya rencana A dan B tapi sampai pada jika plan A berhasil konsekuensi apa yang harus siap saya hadapi untuk membawa saya meninggalkan titik Z dan melangkah ke A1, dan apa yang harus saya ikhlaskan dari tidak diambilnya pilihan B? Setelah saya peroleh A1 selanjutnya langkah apa yang harus saya siapkan dan lakukan agar pilihan A1 selanjutnya tidak saya kutuk-kutuki dan saya sesali di kemudian hari, bagaimana caranya agar pilihan tersebut menjadi pilihan terbaik dan pilihan yang penuh kesyukuran?

 

Kurang lebih begitulah yang saya lakukan selama ini. Saya melakukannya bukan berarti saya sudah expert dan sukses dalam menjalankannya, masih banyak keraguan atau ketidaktetapan hati yang pada akhirnya saya kembalikan padaNya yang paling tahu bagaimana mensolusikan masalah yang sulit ditemukan solusinya dari dunia dan manusia, termasuk dengan mempertemukan saya (by phone) dengan teman saya si Lulung tadi.

 

Sekarang kita bicara tentang passion. Wah, asli, saya agak nyerah untuk mengakui bahwa saya sudah benar-benar bisa menyebutkan apa passion saya. Dan ini quiet stressful. Coz I dont want to live other’s life, I want to live and love my life by loving what I’m doing now and in my future. Well, we can’t get all we want in life, that’s the rule while being a human so we won’t forget how to be grateful in order to reach our satisfaction. Saya memang belum bisa benar-benar menyebutkan satu saja passion saya, tapi alhamdulillah sudah sedikit merasakan kecenderungan diri kearah mana, anyway, passion juga kan sebenarnya bisa jadi lebih dari satu (tapi bukan berarti terlalu banyak juga ya). Saya punya beberapa hal yang saya sukai dan sudah saya dapatkan, tapi memang ada diantara yang sudah saya dapatkan sepertinya kehilangan percikan-percikan tantangan (yang kaitannya dengan gairah dalam (sebut saja) passion saya) didalamnya. Saya sudah mempersiapkan dua skenario dan sedang bersiap-siap dengan konsekuensi dari pilihan akhir yang akan saya jalani nanti.

 

Pilihan yang saya jalani sekarang, saya yakin datangnya dari pilihanNya yang terbaik untuk saya, tapi kita juga harus waspada, tidak berarti ketika Tuhan membantu memilihkan satu pilihan bisa langsung secara kasar diartikan bahwa kita diarahkan untuk menjalani pilihan itu. Kita harus siap memodifikasi konsekuensi dari setiap pilihan yang bisa membuat jalan kita makin terang benderang atau tersesat di kegelapan. Pilihan terbaik dariNya adalah untuk saat ini, setiap waktu yang akan datang selalu ada pilihan-pilihan baik lainnya yang siap untuk diberikan kepada kita. Nah, tidak selalu semua yang telah dipilihkan membawa kita pada pilihan akhir yang sebenarnya kita butuhkan, kadang sebenarnya Tuhan hanya ingin kita mengambil waktu sejenak untuk me-revise azzam (tekad) kita, kesiapan kita, dan memberi waktu untuk kita benar-benar menyelami dan menyadari yang sebaiknya kita jalani. Saya tidak tau sedang dalam posisi manakah saya, sedang menjalani pilihan yang pada akhirnya akan saya jalani sampai pada akhir waktu atau sedang menjalani  pilihan yang sebenarnya akan membawa saya pada pilihan lainnya yang lebih menantang dan lebih ‘saya’. Wallahuallam, yang pasti kita wajib menyiapkan diri dengan segudang rencana apapun pilihan yang akan jadi milik kita dan siap juga memodifikasinya ditengah jalan. Berkompetisi dengan hidup.

 

Yes, Hidup adalah kompetisi menurut saya. Kenapa kompetisi, karena dengan menganggapnya demikian, saya bisa mendapatkan gairah hidup saya untuk terus berkarya, untuk membuat hidup lebih hidup. Teman-temanpun pasti punya asumsi masing2 terhadap hidup bukan? Boleh2 saja, apapun yang membuat teman2 bisa lebih bersemangat. Kompetisi bukan terhadap sesama manusia tapi terhadap tantangan-tantangan yang diberikan hidup, kompetisi terhadap keegoisan diri, kompetisi terhadap masa depan yang serba tidak jelas, kompetisi terhadap segala kemungkinan dan ketidakmungkinan yang memungkinkan. Hidup adalah kompetisi, kompetisi yang membahagiakan bagi saya.

 

Ngomong-ngomong tentang kebahagiaan, sebenarnya seperti apa sie kebahagiaan itu? Apa definisinya? Sepertinya, setiap orang bisa dengan mudah menemukan jawaban yang berbeda-beda. Dalam tulisan-tulisan saya sebelumnya juga dengan mudah bisa teman-teman temukan berbagai definisi kebahagian dalam berbagai kategori dan tingkatan. Menurut saya, salah satu definisi kebahagiaan adalah keseimbangan. Keseimbangan dalam banyak hal terutama keseimbangan dalam menjalankan berbagai peran yang kita emban di mata manusia dan di mata Tuhan. Jadi jika dikaitkan dengan bahasan sebelumnya, apapun pilihan yang ditawarkan yang membawa kita menemukan passion kita dan membuat hidup lebih hidup, semua harus membahagiakan. Tidak hanya membahagiakan bagi diri pribadi, tapi juga membahagiakan bagi setiap orang yang melihat kita berbahagia didalamnya. Jadi dalam setiap pengambilan keputusan memang bijaknya kita pertimbang semua orang yang juga menginginkan kita bahagia dalam versi mereka. Buatlah mereka ikut bahagia meski tidak harus menjalankan kebahagiaan dalam definisi kebahagiaannya mereka. Bahagiakanlah diri kita dan mereka dengan cara yang membuat kita juga bahagia menjalaninya.

 

Pada akhirnya, memang sampai kiamat pun tetap tidak ada seorangpun yang bisa menebak apa yang akan terjadi di masa datang, yang pasti apapun yang terjadi kelak, jalanilah dengan senang hati sebisa kita. Syukuri setiap jenjang-jenjang pencapaian masa datang dan berbahagialah!! Everything happenned for a reason for your own good.

 

PS : Thanks to Lulung for bringing me back to the contemplation of life and the stuff related to it.

 

Live your own life, don’t live other’s life!!

Jakarta, 231211, 11.58

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s