Kembali Disapa Allah


 

Hari ini saya kembali disapa Allah, ahhh.. senangnyaa… siapa yang tidak senang jika Tuhannya menyempatkan hadir dan menyapa dengan caranya sendiri. Jangan bayangkan sapaan mewujud sesuatu, maksud saya disini adalah disapa melalui suatu skenario yang menyenangkan dan penuh ibroh (hikmah).

 

Beberapa waktu kedepan insyaAllah saya akan memasuki dunia kerja (yang akan saya ceritakan kemudian), dan dalam masa tunggu ini ada beberapa hal yang membuat saya khawatir. Saya khawatir saya akan kehilangan diri saya (yang saat ini benar-benar nyaman saya jalani) karena sibuk tenggelam dalam rutinitas kerja. Saya khawatir akan kehilangan rutinitas berbagi yang sudah menjadi habit saya selama ini. Saya khawatir, ketika nanti lelah bekerja, berbagi menjadi tidak lagi menyenangkan tapi malah membebani, karna harus membagi dengan waktu beristirahat. Ah, mungkin berlebihan, tapi bukan tidak mungkin semua kemungkinan itu terjadi.

 

Berlebihan sepertinya, tapi setidaknya kekhawatiran ini membuat saya kembali menyingsingkan lengan baju untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Kalau mungkin berbagi secara lisan tidak lagi efektif dilakukan, minimal saya menyiapkan azam yang kuat untuk tetap berbagi melalui tulisan. Setidaknya, dengan menulis saya bisa kembali mengingatkan diri saya dan juga berkesempatan untuk berbagi dan bermanfaat bagi yang lain. Ah, apalagi yang lebih membahagiakan dari memberi??

 

Seperti malam ini, ketika saya kembali bercakap-cakap (via gadget) dengan seorang teman kuliah. Obrolan ringan sekedar menyerpih-nyerpihkan jarak yang mungkin ada karna telah lama tidak berinteraksi pun berakhir menjadi saling nasehat-menasehati terkait keseimbangan dunia dan akhirat. Saya benar-benar tidak bisa menampik kenikmatan berbagi yang secara naluriah ada dalam diri saya. Ketika teman saya tersebut mengatakan bahwa kesenangan saya berbagi yang membuat saya berbeda, saat itu pula saya sadar bahwa saya memang tidak bisa jauh-jauh dari aktivitas saling berbagi, apapun selama bermanfaat bagi kedua pihak. Saya sadar, saya tidak boleh kehilangan diri saya yang satu ini, karena saya tau saya tidak akan merasa lengkap ketika saya meninggalkan kebiasaan saya ini.

 

Tidak perlu lagi mengkhawatirkan bagaimana saya akan membagi waktu dan menyempat-nyempatkan menulis ataupun bercakap-cakap untuk sekedar mengambil hikmah hari ini karena saya yang membutuhkannya. Tanpa perlu mengkhususkan waktu pun sepertinya mekanisme diri saya akan selalu mencari cara untuk bisa berbagi apapun itu.

 

See, Allah menyadarkan saya tentang hal (yang mungkin) kecil dan berdampak besar bagi diri saya, hanya dengan sapa-sapaan tidak sengaja melalui dunia maya social networking. Saya selalu khawatir akan langkah mundur pelan-pelan saya dalam masa kerja nanti yang membuat saya akhirnya menjauh dari Allah, tapi ternyata saya sepertinya hanya harus menjaga kepekaan diri saya, agar khilaf-khilaf kecil yang mungkin dilakukan cepat disadari, dan tanda-tanda tersurat yang sebenarnya sulit untuk tertangkap oleh keterbatasan manusia dapat dengan mudah terlihat. Dan, agar pencapaian-pencapaian kecil seperti hal ini tetap terus tersyukuri.

 

Bukankah untuk mencapai puncak tangga kita harus menghargai dan mensyukuri setiap energi yang memampukan kita mengangkat kaki dan terus menapak keatas?

 

Bagaimana aku bisa berlari dariMu meski hanya berjarak setitik debu?? Terimakasih sudah kembali menyapa Allah…

Jatinangor, 171011, 00.08

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s