Penjagaan-Nya Gak Pernah Ada Habisnya


fench

 

Penjagaannya Allah tuh gak pernah ada tepiannya, seperti langit yang seolah gak ada sudut pinggirnya, jadi kenapa harus melelang sesuatu yang hanya berujung pada penggadaian keimanan atau pelonggaran2 keimanan??

 

Aih, baiknya Allah gak ada habis-habisnya, seperti hari ini ketika saya berkesempatan untuk disandingkan dengan orang-orang hebat yang sudah jauh berada didepan saya dalam hal keimanannya kepada Allah.. Sejujurnya, setelah lulus saya takut sekali dengan ketahanan saya untuk bisa bertahan menjaga apa yang selama ini sudah susah payah jatuh bangun saya genggam erat-erat, pakaian syariah misalnya atau mungkin interaksi yang masih dalam batas kebaikan pergaulan sosial.

 

Dulu ketika masih aktif kuliah, tidak jarang saya mendengar atau bahkan terlibat langsung dalam pergunjingan dalam mempertanyakan kenapa si teteh anu yang dulunya begitu rapih dan kuat memperjuangkan performa muslimahnya tiba-tiba mulai sedikit demi sedikit melonggarkan batasannya? Kenapa si akang itu melebarkan range interaksi antar lawan jenisnya? Dan saat ini saya berada dalam posisi memasuki dunia mereka yang banyak jadi perhatian aktivis-aktivis yang masih dalam kondisi kondusifnya di kampus. Mungkinkah saya bisa bertahan minimal seperti kondisi saya saat ini? Atau mungkin mulai sedikit menjauh dari kebaikan-kebaikan yang saya peroleh saat ini? Ah,, saya benar-benar tidak tau, tapi sebisa mungkin saya jaga pola pikir saya untuk tetap bisa profesional dalam kerja tanpa harus mengorbankan yang seharusnya memang tidak masuk dalam kategori hal yang harus dikorbankan.

 

Ketika di acara tadi siang masing-masing pembicara memaparkan prestasi duniawinya, tiba giliran seorang pembicara yang menyampaikan bahwa prestasi sesungguhnya sebagai seorang manusia yang punya tugas utama untuk beribadah kepada sang penciptanya adalah terpilih masuk menjadi golongan orang bertakwa dengan imbalan masuk ke surgaNya. Asli!!, saya masih jauh sekali dari hal tersebut. Dan seperti daun yang gugur karena memang telah ditakdirkan untuk gugur saat itu, keikutsertaan saya dalam acara hari ini pun seolah telah direncanakan matang oleh Allah untuk me-refresh-kan kembali nurani saya yang mungkin mulai sedikit bebal untuk membedakan antar 2 hal yang harus digenggam kuat-kuat atau pantas dilepaskan. Kepekaan saya terhadap kebaikan ilahiyah kembali disentil agar terstimulasi untuk peka dalam pengambilan keputusan ketika nanti berada dalam dunia sebenarnya dengan tantangan yang sebenarnya di dunia kerja dan masyarakat.

 

Nikmat sekali rasanya, meski saya sadari maju mundurnya saya yang terlalu dinamis dalam mempertahankan keyakinan dan kegigihan dalam mengedepankan Allah diatas semua urusan juga terbatasi oleh kemurahan Allah yang diimbangi dengan seberapa cepat saya berlari untuk tetap berada dekat dengan Allah. Semoga Allah tidak bosan-bosannya menyentil saya dan membuat saya mampu untuk lebih baik diantara satu pelajaran ke pelajaran lainnya. Semoga jasad, akal, dan keimanan saya tetap selaras dalam menghadapi segala tantangan yang akan datang didepan sana.

 

Terima kasih semampu seorang manusia berterima kasih padaMu Allah…

Semoga jarakku denganMu tetap dalam batas aman…

Jatinangor, 190811, 22.45

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s