Belajar Mengambil Keputusan Yukk,,,


 

Sepertinya sudah terlalu banyak curhatan saya mengenai pengambilan keputusan,,, Bagaimana saya tidak akan mengulangi kekurangtepatan pengambilan di masa lalu dan mulai bertahan untuk memilih dan mengerjakan yang memang saya sukai,,,

 

Pernah denger kata-kata seperti ini “Allah akan menguji titik kelemahan seseorang sampai titik lemah itu menjadi kekuatan kemudian baru akan diganti dengan ujian yang baru (alias naik tingkat)”? Nah, ini sepertinya titik lemah saya, selalu ingin memanfaatkan semua kesempatan yang menghampiri, padahal dulu saya sudah pernah berbagi tentang 3 hal dalam pengambilan sebuah keputusan yang perlu ditimbang-timbang dengan cermat, yaitu kesempatan, kemampuan, dan kemauan. Lagi nie temen-temen, saya dihadapkan pada 2 pilihan dimana pilihan pertama kesempatan dan kemampuan mencukupi, sedang pilihan kedua tidak pasti tetapi sesuatu yang memang benar-benar saya maui.

 

Jadi begini ceritanya, tidak lama setelah saya sidang akhir kemarin eh saya langsung dapat tawaran untuk menjadi pekerja full time di bidang content management hasil dari naik tingkat kerjaan part time saya sebelumnya. Tentu saja sebagai fresh graduate yang emang masih bener-bener gress langsung senang mendapatkan tawaran kerja, bahkan akhir minggu itu langsung ditawari untuk menandatangani kontrak dan langsung aktiv bekerja di hari senin berikutnya. Orang tua pun sangat senang mendengarnya. Ternyata memang tidak terbukti lulus lama akan terlambat mendapat kerja (hahaha pembenaran). Langsung saja saya ikuti tes demi tes yang dijadwalkan. Semua baik-baik saja, dan saya sudah mulai menggambarkan diri saya bekerja di tempat tersebut senin depan, tentunya juga membayangkan lepasnya saya dari tanggungan orang tua bersamaan dengan penandatanganan kontrak kerja ini.

 

Sampai ketika hari wisuda, jam 15.04 handphone saya bergetar. Untung saja saat itu sedang prosesi pembagian ijazah fakultas lain, sambil curi-curi waktu langsung saja saya mengangkat telpon dari nomor 021xxxxxxx tersebut. Ketika saya angkat, ternyata saya mendapat panggilan interview di salah satu tempat saya melamar setelah akhirnya berkas saya lulus seleksi. Saya senang bukan kepalang, bagaimana tidak, pekerjaan tersebut memang jenis pekerjaan dan tempat kerja yang saya ingini. Well, belum sampai diterima sie, tapi minimal ada peluang untuk bisa bekerja disana. Orang tua saya pun sangat senang mendengar panggilan tersebut, mereka memang sangat ingin saya bekerja ditempat seperti itu. Namun, kesenangan tersebut sempat terkikis sesaat..

 

Apa yang harus saya lakukan?? Dua pekerjaan dengan memang sama menggodanya. Pekerjaan pertama lebih pasti, insyaAllah bisa langsung bekerja dan mengurangi beban orang tua segera, dan pekerjaan kedua belum pasti akan tetapi ini adalah pekerjaan yang saya ingin-ingini. Setelah sempat berdiskusi dengan orang tua sebagai pemberi ridho dan minta dikuatkan hatinya kepada Allah untuk bisa memilih satu diantaranya, dengan berat hati saya lepaskan tawaran pekerjaan pertama. Konsekuensinya, ketika ternyata pekerjaan kedua belum jadi rejeki saya ya status saya menjadi jobless kembali,,,

 

Well, bukankah untuk bernapas dan melanjutkan hidup setiap harinya adalah pilihan?? Jadi, kenapa harus takut?? InsyaAllah kalau kita memang meyakini semua pilihan yang memang telah dipilih melalui proses yang baik tidak akan berimbas buruk. Pasti sudah yang terbaik. Hanya saja perlu menyiapkan mental lebih memang untuk menghadapi konsekuensi terburuk yang mungkin pada akhirnya terjadi. Baiknya Allah menghadapkan saya pada dua pilihan yang sama baiknya, jadi untuk apa dibenturkan, sebenarnya Allah hanya ingin melihat kedewasaan saya dalam memutuskan sesuatu. Alhamdulillah orang tua pun sejalan dengan saya, jadi ya tidak perlu ada yang dikhawatirkan kan??

 

Walhasil, senin kemarin, sejak jam 5 subuh sampai jam 7 malam, saya bolak balik PP ke jakarta. Tes wawancaranya saya rasa saya sudah memberikan performa yang terbaik. Dan entah kenapa teman-teman, wawancara yang berlangsung kala itu sepertinya mudah sekali dan tanpa beban, saya rasa ini tidak lepas dari adanya andil izin orang tua didalamnya. Ingat kan teman-teman kalau orang tua itu kepanjangan tangannya pencipta kita, jadi sebaiknya libatkan mereka dalam pengambilan keputusan terutama keputusan-keputusan besar.

 

Kerja itu bukan untuk mencari uang atau untuk memamerkan status dan taraf hidup seseorang. Pekerjaan itu hanya sarana untuk meningkatkan nilai diri kita. Pekerjaan yang baik adalah konsekuensi dari nilai diri yang baik pula. Jadi kalau memang nilai diri kita sudah sampai pada level tersebut, insyaAllah pekerjaan yang menghampiri juga tidak akan jauh dari nilai diri kita. Jadi tidak peduli seberapa terlambat kita lulus kuliah kalau memang nilai diri sudah baik insyaAllah pekerjaan akan dengan sendirinya mendatangi kita, tapi ya bukan berarti tanpa usaha untuk mendekati,, 😀

 

Allah selalu tau waktu  yang terbaik,,

 

He who has a ‘why to live’

Can bear almost anyhow

_Nietzche_

Jatinangor, 160811, 10.42

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s