Ayo Bangun Jembatan Terbaik


 

Entah diawali dengan obrolan apa, rutinitas berbagi cerita dengan ibu kali ini sampai pada topik mengenai pendidikan. Ibu berkata bahwa dulu bapaknya ibu (baca : kakek) pernah bilang ke ibu, “Sekolah itu jembatan.”, dan ibu merasa apa yang kakek saya utarakan dulu benar adanya. “Sekolah itu jembatan masa depan”, lanjut ibu. Pendidikan diibaratkan sebagai jembatan masa depan :

1.       Jembatan bambu

Jembatan bambu biasanya terdapat ditengah kebun atau ditengah sawah, ditengah hutan, atau bahkan biasanya ditengah jurang. Yang lewat bibi-bibi yang ngangkut hasil panen dari kebun, atau bapak-bapak yang baru pulang ngebajak dari sawah, atau orang-orang pelosok yang mau mengunjungi desa lainnya. Kendaraan pun tidak ada yang bisa lewat, kalaupun ada mungkin hanya sepeda, itu pun jarang terlihat melintasi jembatan bambu. Begitu juga dengan pendidikan, kalau diibaratkan jembatan bambu adalah pendidikan hingga jenjang sekolah dasar (SD), yang kita temui adalah orang-orang yang benar-benar masih baru belajar. Siswa-siswanya belum mengerti teknologi, belum tau tentang politik, belum memahami tentang konspirasi, apalagi ghowzul fikri (perang pemikiran). Kalaupun pendidikan kita hanya sampai taraf sekolah dasar, kemungkinan besar masa depan kita akan berakhir menjadi pembantu rumah tangga (PRT), lebih keren sedikit disebut tenaga kerja indonesia (TKI) yang kebanyakan hanya menjadi korban traficking, kalaupun bisa membuka usaha sendiri ya warung klontongan, atau kalau kita mungkin punya sedikit modal leadership bisa jadi juragan warung klontong. Intinya setinggi-tingginya masih di level pekerja kasar, atau pekerja bawahan.  Mungkin bisa saja mendapat kerja yang lebih baik, tapi karena hanya sekolah sampai SD walhasil informasi terbatas dan tidak tau bahwa ada banyak peluang diluar sana.

 

2.       Jembatan Papan

Selanjutnya, lebih baik sedikit seperti jembatan yang terbuat dari papan. Letaknya biasanya di desa-desa yang sudah sedikit kenal dengan dunia luas. Orang-orang yang lewat sudah banyak yang memakai sepeda, bahkan motor pun sudah banyak yang melewatinya. Mulai dari orang-orang yang mengendarai motor untuk pergi ke ladang hingga tukang ojek bisa ditemukan. Kalau diibaratkan sebagai pendidikan, jembatan papan seolah pendidikan dasar 9 tahun hingga jenjang SMP (sekolah menengah pertama). Informasi yang diketahui mereka-mereka yang sampai dijenjang ini lebih baik dari mereka yang berakhir di jenjang sekolah dasar, biasanya sudah mengerti bagaimana cara berkompromi, sudah mengenal bagaimana cara ber-persuasi, sudah mengerti bagaimana cara memilih, dan hal-hal lain yang lebih baik daripada mereka yang hanya menjejaki jenjang sekolah dasar. Mereka-mereka dijenjang ini sudah bisa menjadi distributor hasil panen ke pusat pasar, bisa mempunyai kehidupan yang sedikit lebih baik dari orang-orang yang hanya difasilitasi jembatan bambu.

 

3.       Jembatan Besi

Lebih baik dan lebih stabil lagi, adalah jembatan besi. Jembatan besi biasanya digunakan untuk menghubungkan perjalanan yang dipisahkan oleh sungai. Biasanya jembatan ini memfasilitasi perjalanan antar desa. Membuat mereka yang melewatinya bisa lebih memperluas pergaulannya. Kendaraan yang lewat pun sudah beragam, sepeda, motor, hingga mobil. Namun, biasanya kebanyakan mobil yang lewat adalah mobil-mobil reyot yang mengangkut sayur dan sembako, atau truk-truk yang bermuatan sembako dan hasil rempah lainnya. Jika dianalogikan dengan pendidikan, jembatan besi ini setara dengan mereka-mereka yang menempuh jenjang pendidikan hingga sekolah menengah atas (SMA). Biasanya, siswa-siswi SMA sudah mengerti bagaimana cara memilih dengan alasan yang reasonable, sudah bisa mengambil keputusan sendiri, sudah mulai memahami apa yang disukai dan tidak disukai, sudah mengerti mengenai pemberontakan, sudah tahu apa itu politik, mulai mengerti bagaimana memberi dan tidak hanya melulu menerima, sudah mulai paham apa yang disebut dengan strategi, sudah mulai memahami mengenai konsep kepemimpinan. Mereka-mereka ini bisa menciptakan masa depan yang jauh lebih baik lagi dari mereka yang hanya melintasi jembatan bambu dan jembatan papan. Mereka didatangi dan tahu bagaimana harus mendatangi peluang yang lebih baik. Sebagian dari mereka bisa bekerja diperusahaan meskipun masih level bawah, mereka juga lebih inovatif dan mulai berpikir tentang membuka lapangan pekerjaan. Kesempatan untuk memperoleh jodoh yang lebih baik pun terbuka lebih lebar daripada mereka yang hanya berkesempatan menjejaki jembatan bambu dan papan.

 

4.       Jembatan Beton

Dan yang terakhir adalah jembatan beton. Jembatan beton biasanya digunakan sebagai jalan-jalan arteri, jalan-jalan utama kota besar, jalan-jalan by-pass yang menghubungkan kabupaten yang satu dengan lainnya atau bahkan jembatan tol yang digunakan untuk menghubungkan antar provinsi. Jembatan yang bisa dilewati segala jenis transportasi darat, tidak hanya sepeda off-road tapi sepeda piksi yang biasa digunakan diperkotaan, bukan hanya motor yang terjangkau oleh kalangan menengah kebawah tapi juga harley davidson, bukan hanya truk dan bus tapi juga mobil ferrari, alphard, dan lambroghini. Bahkan, sepeda seringnya dibatasi untuk tidak memasuki kawasan jalur cepat ini, secara tidak langsung sudah ada sistem sortir untuk melewati jalan ini. Jembatan yang penggunaannya pun berbayar. Jembatan yang memungkinkan kita untuk bertemu dengan orang no. 1 di Indonesia. Itulah kita yang saat ini sedang ataupun telah selesai menjejaki jenjang pendidikan tinggi (universitas). Mereka yang sudah berani turun ke jalan dan menggoyang kursi pemerintahan, mereka yang tidak lagi memelas rasa kasihan tapi meneriakkan keadilan yang seharusnya didapatkan, mereka yang tidak hanya tahu tentang politik tapi bisa bermain didalamnya, mereka yang berani mati demi memperjuangkan kebenaran, mereka yang nyalinya lebih besar dari nyali-nyali hewan buas penguasa rimba. Mereka-mereka yang mengerti bagaimana ber-konspirasi, mereka yang berani bermain api, dan mereka yang berani bertaruh demi kebebasan berkreasi. Mereka-mereka adalah kita yang tidak hanya tau cara membaca dan menulis bahkan bisa menciptakan ilmu baru, mereka adalah kita yang tidak hanya kaya informasi tapi juga menjadi sumber informasi, mereka adalah kita yang tidak hanya bersentuhan dengan teknologi tapi bisa menciptakan teknologi penggebrak zaman, mereka adalah kita yang menyuarakan melalui lisan dan tulisan tentang suara-suara kebaikan hingga suara-suara kebathilan. Bukan hanya bisa bernasib baik tapi bisa berperan dalam mengubah nasib orang lain. Bukan hanya berkesempatan bertemu tokoh dunia tapi juga berkemungkinan menjadi pengubah dunia. Kita yang potensi kebaikannya berbeda tipis dengan potensi keburukan jika saja tidak punya pegangan dalam pemanfaatan kelebihannya.

 

Tentu saja semakin baik jembatan maka semakin baik pula masa depan yang ditawarkan, walaupun tidak menampik kejernihan pikiran tak jarang tidak diimbangi dengan keluasan potensi perolehan ilmu. Jika pendidikan adalah jembatan, seharusnya kita yang katanya mahasiswa atau dulunya mahasiswa bisa memiliki nasib yang lebih baik dari ayah ibu kita yang mungkin dulu tidak sampai mengenyam pendidikan setinggi kita. Tidak juga bisa di generalisir bahwa mereka yang hanya menjejaki jembatan dengan tingkatan yang lebih rendah akan memiliki nasib yang tidak akan lebih baik dari orang-orang yang berkesempatan melalui jembatan yang lebih baik kualitasnya. Hukum alamnya memang demikian, walaupun diantaranya ada pengecualian yang tidak bisa dipungkiri.

 

Jabaran singkat mengenai analogi sekolah dan jembatan dari ibu saya yang kemudian saya eksplorasi ini menitikberatkan bahwa pendidikan itu penting, bukan hanya untuk mensyukuri kemampuan yang telah diberikan Tuhan kepada kita dengan sama rata, tapi juga untuk mengubah nasib yang tergores untuk menjadi lebih baik. Saya dan teman-teman perlu bersyukur karena orang tua kita telah berusaha sebaik mungkin untuk membangunkan jembatan terbaik untuk kita lalui, dan sudah sepantasnya untuk kita menjadi pembangun jembatan selanjutnya agar generasi kita nanti bisa kembali lebih baik daripada kita sebagai orangtuanya.

 

Setiap harinya ada satu tugas yang sudah pasti diemban setiap manusia, yaitu UNTUK MENJADI LEBIH BAIK DARI KEMARIN

Jatinangor, 040711, 18.25

 

Advertisements

2 thoughts on “Ayo Bangun Jembatan Terbaik

  1. kalo jembatan layang ada gak ya mbak? hehehe.

    anw, masalah pendidikan benar2 menjadi pikiran dan topik diskusi saya dengan teman-teman. menurut mbak, lebih penting mana, pengalaman atau pendidikan? dan mw curhat dikit nih, banyak orang saat ini yang malas untuk melanjutkan pendidikan tinggi2 karena menurut mereka untuk menjadi sukses (dalam hal uang) gak perlu pendidikan yang tinggi. tidak itu saja, pasti akan langsung disambung dengan disebutkannya tokoh2 seperti thomas alfa edison, bob sadino, bill gates yang gak kelar kuliah atau sekolah. nah, menurut mbak gimana?

    • menurut saya 22nya penting, dengan pendidikan, kita dapetin pengalaman yang lebih luas dan lebih baik lagi,, Nah, sebenernya (menurut saya) pendidikan membuat kesuksesan finance lebih lama digenggam,,, mungkin tidak absolut tapi bagi saya, pendidikan mengantarkan pada kesempatan yang lebih baik. yang pada akhirnya menjadi wirausaha pun mungkin bisa lebih luas lagi mengekspansi bisnisnya dengan network yang lebih luas yg diaring selama mengenyam pendidikan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s