Taare Zameen Par (Review)


taare zameen par

Sudah lumayan lama saya di-copy-kan file film “Taare Zameen Par” oleh teman saya, baru hari ini saya benar-benar mau menontonnya. Biasanya kalau tampilannya tidak terlalu menarik dan belum banyak yang merekomendasikan, saya akan menunda-nunda menonton film sebagus apapun, kecuali kalau sudah kehabisan stok dan sedang banyak waktu luang.

Singkatnya, hari ini saya menonton film KEREN ini. Film “Taare Zameen Par” ini mengisahkan tentang seorang anak disleksia bernama “Ichsaan” yang mendapat perlakuan yang menyudutkannya karena ketidaksukaannya terhadap huruf, membaca dan menulis, juga ketidakmampuannya dalam menerima informasi padat dalam waktu yang singkat, serta kesulitannya dalam menyesuaikan size, speed, and places. Hal ini perlahan menjadikannya seolah tidak mampu mengikuti perkembangan anak seumurannya, padahal sebenarnya hanya perlu penyesuaian dalam penyampaian oleh guru diikuti pengembangan pendekatan huruf kepada Ichsaan. Saya tidak akan membahas terlalu banyak mengenai film ini, khawatir bocor duluan bagaimana alur ceritanya ke yang belum menonton, sayang kalau tidak diikuti setiap menit detiknya.

Film ini SUKSES BESAR membuat saya menangis sejadi-jadinya!! Terutama sekitar menit ke 53 ketika Ichsaan harus berpisah dengan keluarganya dan tinggal di boarding school (asrama). Saya gak tau kenapa saya bisa nangis se-kejer itu. Sepertinya masalah saya adalah saya terlalu attach pada perasaan pemeran utamanya tiap kali saya menonton film. Saya yang sangat tidak bisa melihat seorang anak (siapapun, kapanpun, dimanapun) yang merasa kesepian, sedih, atau semacamnya, terang saja langsung menangis tersedu-sedu ikut merasakan sedihnya Ichsaan berpisah dari ibunya. Ditambah lagi lagu soundtracknya yang (artinya) mengiris hati. ='( Saya seolah mengalami sendiri dan merasai bagaimana sedihnya dikatakan malas, bodoh, gila, aneh, dan tidak ada tempat untuk mengadu dan berbagi. Anak kecil lho.. Asli, sedih banget L #Nontonnya malem-malem lagi, g tau deh teman kosan komen apa πŸ˜›

Oia, ada lagi satu adegan saat ibunya menelpon dan pamit untuk tidak mengunjungi minggu ini. Padahal, saat itu, Ichsaan benar-benar sedang depresi di puncak-puncaknya dimana lingkungannya benar-benar tidak bisa mengerti dan sangat tidak mendukung dia dengan segala ketidakmampuannya. Niat saya dari dulu, ditambah setelah menonton scene ini, makin bulat untuk tidak membuat anak saya nanti kecewa karna orangtuanya tidak sempat ada disampingnya disaat yang sebenarnya sedang sangat dibutuhkan. Sebisa mungkin saya dampingi anak saya (nanti) dalam keadaan apapun, semoga Allah mengizinkan.

Ada pesan khusus juga yang diperuntukkan untuk para orang tua yang lebih sering mengutuki anak-anaknya dengan segala kekurangan dan ketidakmampuan yang dia miliki. Tanpa orang tua sadari, kata-kata yang diserap sehari-hari oleh anak mereka perlahan akan membentuk bagaimana mereka kelak ketika dewasa, sama seperti cerita di Solomon Island. Dikisahkan bahwa orang-orang di Solomon Island tidak menebang pohon-pohon disekitarnya, mereka hanya berkumpul dan mengutuki pohon tersebut hingga akhirnya pohon tersebut mati dan tumbang dengan sendirinya. Ini contoh nyata betapa pentingnya filtrasi dan pilah-memilah kata yang nantinya akan diserap oleh anak dan berpengaruh dalam perkembangan diri mereka.

Every child is special, dan kita tidak bisa memaksakan semua anak berprestasi dengan standar umum yaitu dengan memperoeh nilai yang tinggi, menjadi seseorang dengan profesi terpandang, dan sebagainya. Setiap anak punya jalan dan caranya sendiri untuk menjadi istimewa, biarkan mereka menemukan dan menjalaninya sendiri, tidak perlu dipaksakan. Banyak anak-anak disleksia terdahulu ternyata yang saat ini sering kita dengar legendanya, seperti Albert Einstein, thomas Alpha Edison, pablo Picasso, Leonardo Da Vinci, Walt Disney, hingga Tom Cruise dan Agatha Christy, dan mereka menemukan caranya sendiri hingga bisa dikenang sehebat saat ini. Dan semua ini tak lepas dari peran orang tua dalam merespon segala ke-kurangmampuan anak, dan ini berlaku tidak hanya bagi penderita disleksia tapi juga bagi anak-anak lainnya yang memiliki perbedaan lainnya.

Jatinangor, 060411, 01.10

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s