Tentang Berbagi Rejeki


Waaahh,, ternyata rejeki yang saya bicarakan kemarin benar-benar beratus kali lipat.. jangan tanya berapa jumlah rejekinya, tapi tanyakan berapa jumlah uang yang saya miliki kemarin pagi. Kalau kemarin Cuma punya uang seribu kan berarti 100 kali lipatnya sama dengan seratus ribu rupiah. Hahahaa…

 

Typical orang Indonesia, ah bukan Indonesia saja sepertinya, typical masyarakat dunia adalah ketika temannya ketiban durian runtuh maka hal pertama yang diutarakan adalah “Makan makaannnn,,,” atau “Teraktiraaaaannn”,, saya pun seringgg sekali begitu. Heheee… Nah, entah kenapa, pengalaman kali ini membawa saya pada titik kulminasi terhadap tradisi sabotase rejeki dengan mentraktir teman-teman terdekat. Bukan berarti jadi pembenaran karena saya yang sedang dapet rejeki lho,, hahahaa..

 

Iya, jadi sebenarnya yang sepantasnya seorang teman utarakan ketika sahabatnya mendapat rejeki adalah untuk menyisihkan rejeki tersebut kepada mereka yang membutuhkan (juga sebagai zakat penghasilan) dan kemudian untuk menyelesaikan semua tanggungan (hutang). Karena memang rejeki yang diberikan tidak dapat sepenuhnya bisa kita klaim sebagai milik kita. Didalam 100 persen rejeki ada sedikitnya 1% sampai dengan 99% rejeki orang lain yang dititipkan melalui tangan kita. Dan bijaknya, ketika kita mendapat rejeki, sisihkan dulu bagian tersebut. Ini juga yang menyebabkan kadang-kadang kita bahkan hanya merasakan memegang rejeki tersebut untuk sesaat dan harus dengan berat hati merelakannya pergi. Contohnya : ketika kita mendapat rejeki sebesar 25juta, tiba-tiba ada orang yang akan operasi jantung dan kekurangan dana sebesar 25 juta, maka sebenanya rejeki yang sedang kita dapatkan saat ini adalah milik mereka yang akan oprasi jantung dan kekurangan dana. Atau misalnya ketika kita mendapat rejeki 4 juta tapi pas tepat hari itu kreditan mobil sampai tenggat waktu untuk dilunasi sejumlah yang sama, maka sesungguhnya rejeki itu adalah milik mereka yang bertugas menagih kredit macet mobil yang kita menjadi perantaranya.

 

Allah sudah menjamin rejeki bagi mereka yang benar-benar ingin melepaskan diri dari tanggungan, dan Allah akan melipatgandakannya terutama kepada mereka yang menambahkan usaha “langit” dalam ikhtiarnya (contohnya : solat dhuha). Nah, bisa jadi rejeki yang teman kita peroleh sebenarnya hasil dari usaha untuk menyelesaikan urusan-urusannya. Jadi ingatkan mereka, kenapa tidak kita rubah tradisi selama ini untuk terlebih dahulu mengingatkan mereka untuk menyisihkan dan menyelesaikan yang harus diselesaikan, baru selanjutnyaaaaa makan-makaaaannn.. hahahaha… Ayo dimulai dari diri sendiri.

 

Saya jadi ingat, April ini saya ingin melanjutkan les jerman yang sempat ditunda 2 bulan kemarin, saya sempat berpikir untuk mendedikasikan jatah bulanan saya dan hasil kerja saya untuk les ini, walaupun saya tahu tidak akan mencukupi untuk kebutuhan lainnya. Tapi entah kenapa saya optimis, April ini saya akan les entah dari mana rejekinya. Bisa jadi rejeki kali ini juga untuk menyicil uang les yang sudah saya rencanakan,, πŸ˜€ Lagi, Allah menjamin rejeki bagi mereka yang berusaha.

 

Terimakasih atas doanya teman-teman, dan atas partisipasinya dalam sampainya rejeki ini ke tangan saya, ayo kita ubah pola pikir kita, selain mengingatkan teman, kita juga mengingatkan diri sendiri untuk menjadi lebih baik…

 

Sampai bertemu rejeki kalian hari ini,,,,

Jatinangor, 020411, 09.59

 

Advertisements

One thought on “Tentang Berbagi Rejeki

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s