Mau ngapain tahun depan?


I have a dream

Ngumpul dadakan.,,,, seperti biasa. Tanpa rencana, tanpa tendeng aling-aling, ujug-ujug salah satu teman saya (yang ternyata baru balik dari Jakarta) ngajakin ngumpul n makan bareng di tempat nongkrong biasa, BOSA. Biasa.,, masih tetap dengan geje-nya.

Sampai entah bagaimana awalnya tiba-tiba salah satu teman saya bertanya “Tor, Lo tahun depan mau ngapain?”. Saya yang merasa seolah sedang menjadi kelinci percobaan implementasi hasil training langsung saja menjawab dengan cepat. “Mau ke Jerman kak.. mau Au Pair setahun disana.” Teman saya tadi melanjutkan “Yakinin kita-kita kalo lo tahun depan bener-bener bakal ke Jerman.”, disambut dengan tatapan teman-teman lain yang mulai antusias dan memusatkan konsentrasi pada percakapan yang tiba-tiba itu tadi. “Histor udah les Jerman dari akhir tahun kemarin, histor sudah punya nilai A1 (level basic kursus Jerman) diatas 7. Histor tinggal nunggu lulus trus mulai les A2 lagi sambil nyiapin ini itu untuk kelengkapan berangkat ke Jerman sambil cari host family n bargain semua offering dari mereka. And bla bla bla Kurang lebih seperti itu saya menjawab, ternyata masih disambut dengan pertanyaan lain. “Gimana kita yakin lo bakal lulus tahun ini? Kenapa g keburu dari kemarin-kemarin lulusnya?” dan diteruskan dengan sekitar 5-7 pertanyaan lanjutan menanggapi jawaban yang saya berikan yang bisa membuat mereka yakin bahwa saya benar-benar bisa dipastikan akan ke Jerman tahun depan.

Setelah pertanyaan demi pertanyaan yang coba saya jawab dengan se-meyakinkan mungkin, sampailah pada konklusi dari (semi) simulasi tadi yang salah satunya adalah tentang Sanksi Sosial. Sanksi sosial yang diselipkan pertanggungjawabannya pada setiap jawaban yang diberikan, yang secara tidak langsung akan menjadi sentilan dan janji pribadi pada masing-masing individu. Secara tidak langsung saya sudah berjanji kepada mereka tentang sesuatu yang akan saya lakukan ditahun berikutnya, dan jika hal tersebut tidak saya laksanakan seharusnya saya malu pada mereka yang (tanpa disadari) telah saya janjikan. Ini tentang bagaimana mendidik diri untuk merealisasikan mimpi masa depan melalui janji yang diberikan pada orang lain.

Ah ya, ada satu hal lagi yang dipertanyakan teman saya tadi kepada teman-teman yang mendengarkan, “Yakin gak kalian kalau Histor bakal ke Jerman tahun depan?” ada yang menjawab yakin, dan masih ada pula yang belum yakin. Yakin atau tidaknya pendengar dari jawaban demi jawaban yang saya berikan bisa membawa dua macam pengaruh pada saya, positif atau negatif. Dan, bijaknya seharusnya kita memilih untuk meresponnya dengan positif. Seperti pernah disampaikan oleh Mas Helmy, hasil itu adalah bentukan dari respon akan sebuah peristiwa yang jika dirumuskan seperti ini :

P (peristiwa) + R (respon) = H (hasil)

Dan bagaimana hasil yang akan terjadi, 90%nya ditentukan dari bagaimana kita merespon peristiwa yang telah terjadi. Bisa saja saya menjadi patah semangat dan kemudian memperkecil mimpi saya atau bahkan memutuskan untuk tidak lagi bermimpi ke Jerman tahun depan. Namun, bisa juga saya justru berpikir untuk membuat langkah-langkah yang saya lakukan lebih realistis lagi hingga mereka kelak akan menjawab mantap “Yakin, tahun depan histor pasti ke Jerman.”. Semua tergantung pada how we re-act.

Jadi, tahun depan mau ngapain temen-temen?

Gimana caranya saya bisa yakin temen-temen bisa bener-bener menggapai mimpi itu?

Jatinangor, 120311, 00.33

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s