[Maryamah Karpov], Tentang budaya, persahabatan, cinta, dan petualangan


Maryamah Karpov

Aduh,,, sebenernya saya agak malas lagi-lagi membahas tentang ginian. Kebetulan karena kemarin (akhirnya setelah 2tahunan dimakan rayap di rak buku) baru menyelesaikan tetralogi Laskar Pelangi yang terakhir yaitu Maryamah Karpov, jadi lagi-lagi bahasan saya ginian.

Sudah lama sebenarnya saya ingin segera membabat habis buku ini, tapi ya namanya saya, orangnya gak bisa dipaksa, apalagi untuk membaca buku yang saya suka, harus benar-benar mengkhususkan waktu dan membenarkan mood dulu. Ada teman saya yang tidak terlalu suka gaya penulisan Andrea Hirata, bisa jadi karna terlalu melayu, dan banyak diksi melayu setempat yang kurang dipahami, tapi bagi saya justru hal ini yang membuat karya-karya Mas Andrea Hirata menjadi berbeda, sampai-sampai beliau dijuluki culture novelist. Sudah mengerjakan hal yang disukai (menulis) bisa sekaligus berkontribusi dalam promosi bangsa sendiri lagi, menyenangkan!

Banyak hal yang membuat saya terkekeh dan mengangguk-anggukkan kepala setiap lembar yang membahas tentang adab orang melayu, saya yang berasal dari Lampung pun sempat menemukan fenomena-fenomena bangsa melayu yang tertoreh disana. Menarik… sekaligus unik,,, Tak menampik, banyak juga hal-hal yang kurang baik untuk ditiru, tapi tidak menolak juga bahwa hal tersebut yang membuat kekhasan mereka makin berasa.

Selesai mendalami setiap perilaku orang-orang melayu, saya dihantarkan pada perasaan mengharu-biru hadirnya personil laskar Pelangi tepat ketika kepercayaan diri terakhir hampir jatuh kepinggir jurang. Datang satu persatu membangun optimis yang sempat tuntas hilang dari diri Ikal. Terharu,,, Apalagi setelah Lintang dengan aksi kejeniusannya. Sayang sekali orang se-jenius itu tak terhitung dunia. Saya tidak bisa membayangkan jika saja nasibnya berbeda sampai Lintang sanggup mengenyam pendidikan, pasti sudah besar namanya saat ini.

Setelah kejeniusan Lintang dan kontribusi Mahar juga yang lainnya terpaparkan, sekarang saya tercengang!! Benarkah perahu peninggalan kumpeni itu benar-benar terangkat dari dasar sungai?? Seharusnya sudah masuk museum ia. Kemudian, ekspedisi pencarian A Ling pun tak kalah mencengangkan. Masih ada perompak di jaman se-modern ini?? Saya sampai berkali-kali bertanya, ini novel benar-benar kisah nyata?? Ada ya orang seniat itu melawan ganasnya laut untuk mencari yang dikasihi dengan memulainya benar-benar dari 0 besar.

Sampai pula saya pada cerita cinta sejati Ikal dan A Ling. Mungkin ini yang benar-benar dinamakan sudah terpaut hatinya. Mau ke ujung dunia sekalipun tetap hanya orang Hokian itu yang melekat di hati, tak tergantikan. Subhanallah. Oia, sebelumnya juga ada kisah cinta Arai dan Zakiah Nurmala yang akhirnya benar-benar berakhir manis…. Huwahh,, saya mau donk jadi A ling ataupun Zakiah Nurmala, yang mendapat cinta dari lelaki yang benar-benar sepenuh hati setia hanya memilih mereka.

Siapa bilang hanya negeri Barat atau Timur Tengah saja yang punya kisah cinta sejati? Negeri sendiri pun ternyata tak kalah menyanyat hati kisahnya. Contohnya ya di tetralogi ini. Ikal – Aling (walaupun saya belum sempat tau kelanjutannya), dan Arai – Zakiah Nurmala. Meski dengan gaya (sedikit) norak melayu, tapi tetap berasa sampai kedasar hati *halah*. Sedikit keluar dari novel, ada pula pasangan Pak Habibie – Ibu Ainun, dan masih banyak yang lainnya.

Ah, karya-karya seperti ini yang wajar jika sampai dunia pun mengakuinya. Terus berkarya anak bangsa. Semoga saya bisa jadi satu diantaranya, amin…

*Buka mozaik 9 Padang Bulan*
Jatinangor, 020311, 21.15

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s