Sabit


malam semakin dingin saat bulan mulai temaram.

 

Sabit. Tidak sepenuh hari sebelumnya. “Kamu masih ingat mitos pasangan yang melihat bulan sabit?” Dara menoleh dengan cepat menunggu tanggapan seperti setiap kali ia menikmati indahnya bulan sabit. Hening,, tak ada jawaban, tak ada seorang pun disana.

 

saat sabit itu berserah pada malam yang selalu membuatnya menunggu, seperti para jiwa rindu. sabit yang menjadi awal, pada terjadinya purnama. membuat rindu pada jiwa yang mencari setengah jiwanya menjadi sempurna, laiknya purnama.

 

Ah.. lagi-lagi aku lupa, dia telah pergi. Katanya pasangan yang melihat bulan sabit bisa menjadi pasangan selamanya, ternyata semua hanya bualan. Dan kini, jiwaku kembali merindu.

 

aku sudah hampir melewati dua belas purnama dan berjumpa ratusan sabit, tetapi masih saja kenangan itu tersimpan rapih. Waktu memang tak pernah mengalah, dan ibuku bilang, waktu yang akan menghempaskan kenangan purnama semu itu.

 

Entah mengapa, katamu kala itu masih terus menyisakan sedikit keyakinan akan kebenarannya meski sering kali aku menampiknya. Mungkinkah ada dia yang lain setelahmu yang akan ada bersamaku hingga akhir?

 

aku masih tak sanggup menahan tangis, didepan sabitmu. Dengan kabar dalam suratmu yang tak berani kamu sampaikan langsung padaku.

 

Jadi itu alasanmu pergi tanpa pesan dan meninggalkanku terpuruk dalam kelam. Kau ingin aku tak terluka, tapi mengapa hati ini justru terasa sakit melebihi luka?


aku masih tenggelam dalam kenangan setahun lalu, denganmu. namun tak lama kemudian, “mah, sudah malam, udara pegunungan tidak baik malam hari.”

 

Ah ya, aku kini tak lagi sendiri, ada dia yang telah menemaniku melewati sabit dan purnama silih berganti. Mungkin memang kita tak bisa bersama di dunia ini, tapi kita akan bersama diatas sana. Kelak, sampai tiba waktuku menyusulmu.

 

maaf, memang sudah saatnya aku berhenti. akan kutitipkan doa untukmu pada sabit malam ini, seperti doamu di setiap malamku.

 

Besok akan kudaki kembali gunung yang telah merenggutmu dariku. Akan kupersembahkan bunga keabadian yang dulu ingin kau berikan untukku sebagai simbol kisah kita.

 

” sedang apa mah, diluar sana, dingin kan..”
“menikmati sabit, pah”

 

Jatinangor, 08/02/2011
Historina – Salman

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s