PRELUDE


jejak

Serupa embun yang merelakan ketiadaannya pada pagi
Ia hadir menemani dinginnya hati dan pergi meninggalkan hangat yang tak kunjung lekang…

Ah, kau berlebih,,
Rasa itu cuma sementara, Ia timbul dan tenggelam
Kau lihat apa yang sedang aku kunyah?
Ya, Seperti permen karet ini, pada awalnya manis toh pada akhirnya juga ia akan dibuang bersama liur

Aku yang berlebih atau logikamu yang tak pernah berani keluar dari tempurung dan melihat keindahan sekitar? Bukan naif, tapi tidak bisakah kau sedikit percaya? mungkin kita seperti lebah dan putik sari bunga yang tak pernah akan saling menyakiti, sebeda apapun dunia kita, selalu ada yang membawamu padaku.

Karena kau adalah chromophore yang memberi warna, sedang aku auxochrom yang menangkap warna. Itu pun sama timbul tenggelamnya. Dan gelap tak lain dari ketiadaan kita.

Aku akui, akan ada waktu kita menyelami kelam dan ada saatnya pula kita bergumul bersama terang dipermukaan. Namun, bagaimanapun kita nanti, tidak pernahkah ada inginmu agar aku dan kamu tetap sebagai ‘kita’ hingga akhir? Ataukah aku hanya warna yang akan kau campakkan ketika kusam?

Ah ya. Kita, seperti sepasang sayap burung gereja. Terlalu rapuh untuk terus menyelami ruang di seberang horizon. Sayang, tunjukkan dimana kesejatian yang bahkan tidak pernah menguap sedikitpun?

Bukan tentang seabadi apa kita, tapi tentang seberapa kuat genggaman jemari hingga terenggut keabadian dan menyejarah. Seperti edelweis, mengabadi meski telah tiada. Bukan karna kita menyerah, tapi karna waktu sampai pada penghujung tugasnya dan mengharuskan kita berpisah raga.

Edelweis hanya ada di puncak-puncak pegunungan. Butuh berkeras untuk bahkan sekedar mengecup aroma kelopaknya saja. Terlalu agung untuk kau samakan dengannya. Kuncupnya melintasi waktu.

Aku kehabisan kata untuk meyakinkanmu akan kita. Mungkin nanti kau akan berserah, tapi aku akn tetap sama hingga nyawa terenggut kala. Kalaupun aku berubah, itu karna rasaku padamu semakin membuncah mekar serupa rafflesia.

Dan kita pun saling menyambut. Seperti saat bulir-bulir gandum yang merunduk, menggigil mendapat terpaan hangat matahari di garis bukit. Ah ya, beri aku ruh, tiupkan nafasmu ke seluruh pembuluh.. Hingga kita menyatu dalam jalinan semesta.

Hingga pada akhirnya kau pun menyadari,, Mungkin kita terpilih untuk membuatnya mengabadi. Seperti dongeng masa lalu yang tak pernah habis dimakan usia

Juga dalam celuk di bebatuan. Kau dan aku, biar waktu yang akan membawa kita pada jalan untuk kita tapaki bersama.

Jatinangor, 6-8/02/2011,
Historina – Haekal

*KOLABORASI – kalimat pertama oleh Histor, penutup oleh Haekal, judul oleh Haekal*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s