Tak Perlu Logika, Karna Ini Tentang Rasa…


rasa

Kita berjalan bersisian, hampir tidak sejajar. Kadang kau berjalan didepanku, kadang aku yang beberapa langkah berada dihadapanmu. Ah, tidak akan ada yang menyadari bahwa aku dan kamu telah perlahan menjadi kita. Aku berani bertaruh, tak seorang pun yang sempat berpikir aku dan kamu telah lebih dari itu. Sesekali ada kelabu menghinggapi, tapi kamu selalu bisa memastikan ketidakberartian eksistensi fisik selama hati telah terpaut erat. Dan kau, tak pernah luput menghindarkanku dari kelabu meski kadang tanpa ucap atau bahkan sekedar tatap.

 

Kita disini,,
Dikelilingi kuda yang tak pernah tau arah lain selain berputar sembari mengundak-undak naik dan turun. Bermandikan cahaya lampu disetiap penjuru yang mungkin tertuju. Warna-warni balon menemani sumringah bocah kecil di satu sudut keramaian. Riuh rendah motor mengelilingi bulatan besar bersama sorak sorai histeris penontonnya. Mereka yang dengan mudahnya dapat ditemui bulat-bulat warna hampiri tubuh-tubuh mungil yang kadang ketakutan dan kadang berteriak girang meminta pengabadian gambar bersama. Juga pria-pria yang dengan beraninya bermain semburan api dengan perolehan wajah ngeri sekaligus takjub penikmat yang mengelilinginya.

 

Kita disini,,
Tak peduli seberapa ramai sekitar, seberapa riuh suara-suara terdengar, yang terdengar hanya degup jantungku dan kamu. Entah,,, untuk apa kita berada disini, jika yang ingin kita nikmati hanyalah irama degupan yang semakin lama semakin indah dia bernada. Hanya kamuflase,, Ya, itu jawabnya,,, Tempat ini hanya kamuflase.. berharap masing-masing kita terlalu sibuk untuk sempat mendengar suara indah itu. Alunan rasa yang terjalin dalam gelombang bisikan hati.

 

Ini yang akhirnya membuatku takluk, karna tak pernah peduli bukti untukmu perlihatkan rasamu.
Obrolan yang seringnya berakhir dengan silang pendapat tak berujung itu yang menyatukan kita. Ketidakinginanmu mengekspresikan rasa dan tetap menjadi dirimu yang bias dan tak mudah diterka itu yang mengikat hatiku. Keras kepalamu tentang sesumbar tak mengenakkan akan ketidakyakinan hubungan kita yang aku sukai. Segala yang menyebalkan yang membuatku tak pernah sedetik pun tidak merindukanmu.

 

Tak akan pernah sampai logikaku terimamu. Tak akan pernah cukup alasan untuk bersamamu. Karna kau lebih seperti musuhku. Tapi rasa,, membuat semua tak perlu dilogikakan,, menjadikan segala tak butuh alasan. Kamu hanya terlalu kuat untuk tidak takluk hati ini. Bersamamu, detik bahkan lupa akan hitungannya hingga berlalu begitu lambat. Bersamamu, membuatku tak lagi berani menantang takdir yang telah menautkan hatiku padamu, tanpa bisa kucapai dengan akal…

 

Aku menyerah, ternyata ada kalanya hati tak lagi berada dalam kontrolku. Bebas memilih dimana dia akan berhenti dan mengabadi bersama pujaannya.

 

Jatinangor, 020211, 00.22

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s