Semalam di KBRI Pakistan


 

9 December 2010

17.15     Go to Indonesian embassy Guest House

18.30     Dinner with Indonesian embassy officer @KABUL Restaurant, Jinnah Market

20.00     Shopping @Jinnah Market and Super Market

22.00     Back to Embassy Guest House

 

Acara international Youth Conference and festival (IYCF) yang membawa saya jauh-jauh ke Pakistan akhirnya berakhir. Saya dan teman-teman delegasi Indonesia pun beranjak ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di daerah Diplomatic Enclave (komplek seluruh kedutaan besar), Islamabad. Oh ya, seperti yang sudah sempat saya ceritakan diawal, Islamabad adalah kota yang dibangun dengan perencanaan matang sebelumnya, oleh karena itu tidak ada istilah “macet” atau mungkin keramaian yang sampai mengganggu fasilitas umum ataupun transportasi umum. Semua sudah diatur sedemikian rupa sehingga menjadi satu kota yang tertata rapih. Namun, hal ini membuat kota Islamabad sedikit sepi jika dibandingkan dengan kota-kota besar lainnya, karena memang pusat keramaian sudah ditempatkan khusus jauh dari daerah pemerintahan, ataupun dari daerah pendidikan sehingga tidak saling mengganggu satu sama lain. Ini berdasarkan informasi yang saya dapatkan dari bapak-bapak di KBRI.

 

 

Bapak-bapak KBRI yang menjemput kami langsung saja membawa saya dan teman-teman ke Guest House KBRI. Alhamdulillah tempatnya sangat nyaman. Kami diberikan satu kamar dengan 2 tempat tidur yang cukup ditempati sekitar 4 orang, lengkap dengan heater atau penghangat ruangan, dan meja makan. Hanya ada kami dan Kang Fajar (alumni HI UNPAD angkatan 2004) yang sedang magang selama 3 bulan disana. Oia, kang fajar ini sudah sangat membantu saya untuk menyampaikan sedikit kendala-kendala dalam melengkapi kebutuhan kami selama acara IYCF berlangsung, saya sering sekali merepotkan beliau karna memang lebih enak minta tolong dengan yang seumuran, hehehe….

 

 

Tidak lama sesampainya kami di Guest house, kami pun mendapat telpon dari Pak Muladi, untuk segera bersiap keluar karna sudah ditunggu untuk makan malam bersama bapak-bapak atase lainnya. Kami pun segera berangkat menuju tempat makan malam yang dimaksud, yaitu Kabul Restaurant, restoran makanan Afghanistan. Makan malam berlangsung bersama Pak Muladi, Kang fajar, Pak Ozy, Pak Endi, Pak Made, dan Pak Kusdiana, beliau-beliau ini adalah atase-atase KBRI Islamabad beserta jajarannya.

 

 

Diawali dengan perkenalan hangat dari kami dan dari mereka, kemudian diteruskan dengan cerita mengenai pengalaman kami selama acara IYCF. Alhamdulillah mereka cukup senang mendengar saya dan teman-teman bisa membantu pihak KBRI untuk ikut aktif dalam mempromosikan Indonesia secara keluruhan dan untuk bisa menunjukkan eksistensi Indonesia dalam acara bertaraf International. Kata-kata seperti itu sudah sangaatttt cukup untuk membayar usaha pontang-panting kami mempersiapkan penampilan yang maksimal di acara tersebut. Apresiasi yang tinggi dari pihak KBRI benar-benar bisa membuat energi kami yang sempat terkuras dalam tujuan optimalisasi performa terbayar lunas. Terima kasih bapak-bapak..

 

 

Cerita panjang kami mengenai acara dibumbui beberapa pertanyaan mengenai kondisi Pakistan. Saya sempat bercerita mengenai press conference dari panitia di TV Nasional setempat yang disambut dengan antusias oleh para pencari berita, namun ternyata mereka tidak sampai menyebutkan bahwa bapak menteri akan ikut hadir membuka acara esok hari. Informasi tersebut membuat saya bertanya, se-tidak aman-itukah Pakistan, sampai-sampai memutuskan untuk tidak menginformasikan hal tersebut?? Dan rasa penasaran saya pun dijawab dengan penjelasan bahwa sebenarnya bukan berarti tindakan tersebut menunjukkan ketidak amanan pakistan sebagai negara, tapi merupakan tindakan waspada dari panitia untuk menghindari hal-hal fatal yang tidak diinginkan mengingat acara ini adalah konferensi international yang pertama yang didalamnya terdapat banyak delegasi dari luar (outsiders). Tidak bisa di-generalisir bahwa Pakistan tidak aman, namun memang tidak bisa dipungkiri juga bahwa ada saja pihak-pihak yang mungkin akan bertindak tidak baik terhadap pemberitaan tersebut, karna itu ulasan berita mengenai kehadiran menteri diumumkan keesokan harinya.

 

 

Kembali pada aktivitas saya dan teman-teman bersama bapak-bapak KBRI, seorang teman me-request untuk mampir di tempat oleh-oleh karna dia tidak lagi punya waktu untuk bisa membelinya selain malam ini. Dan benar-benar diluar dugaan ternyata bapak-bapak KBRI bersedia menemani, tidak hanya beberapa tapi semua, termasuk Pak Made dan Pak Kusdiana selaku atase-atase di KBRI. Wahh… saya dan teman-teman sempat terharu oleh kebaikan bapak-bapak ini. Dan masih belum selesai… Di toko handy craft, kami pun sempat dibelikan pajangan dinding serta souvenir dari kayu sebagai hadiah dari mereka, baik sekali bapak-bapak ini…. sebelumnya pun kami sempat diberikan tumpangan untuk naik mobil pribadi bersama Pak Made,, terima kasih pak…

 

 

Selanjutnya, masih belum berakhir,,, saya dan teman-teman bersama Pak Muladi, Pak Ozy, dan Kang Fajar (bapak-bapak yang lain pulang duluan) mampir sebentar di toko buku untuk membeli buku-buku terjemahan (a.k.a berbahasa Inggris) yang memang banyak pilihannya dan jauh lebih murah jika dibandingkan dengan harga di Indonesia. Saya sempat sedikit kalap dan menghabiskan cukup banyak uang untuk membeli 4 buku terjemahan mengenai pengembangan diri. Cukup puas namun masih sedikit kurang puas karna uangnya kurang,, kalau saja saya sadar dari awal seharusnya semua uang saya dibelikan buku saja,, haha..

 

 

Tak lama setelah itu, kami pun segera pulang mengingat sudah terlalu lama merepotkan bapak-bapak ini sepanjang sore hingga malam. Sesampainya di guest house pun kami langsung beristirahat.

 

 

10 December 2010

09.00     Breakfast

13.00     Meet the Indonesian Ambassador

16.00     Lunch

20.45     Go to  Benazir Bhutto Airport

21.30     Check in..

23.35     Bye-bye Pakistan, Heading home…

 

Keesokan paginya, salah satu teman saya harus lebih dulu menuju airport dan kembali ke Indonesia. Saya dan teman saya yang lainnya sempat berkeliling sejenak mengeksplor daerah KBRI. Sejujurnya kami ingin berkeliling Islamabad jika memang masih sempat, tapi kami pun tidak ingin kembali merepotkan bapak-bapak KBRI dengan permintaan-permintaan kami yang tidak terlalu penting apalagi sampai mengganggu aktivitas bapak-bapak tersebut. Kami pun memanfaatkan waktu untuk berisitirahat sembari merapihkan packing-an barang bawaan kami.

 

 

Sekitar jam 1 siang, kami ditelpon dan diminta untuk bersiap karna Bapak Duta Besar ingin menemui kami. Wah,,, Pak Duta Besar bersedia meluangkan waktu disela-sela kesibukan beliau untuk bertemu kami, sangat saya apresiasi,,, Ditemani Pak Kusdiana, kami pun bercakap-cakap singkat dengan beliau. Pak Dubes sempat berpesan pada kami mengenai perspektif dalam memandang segala sesuatu mengenai Indonesia. Bahwa kami pun harus bisa menanggapi segala problem negeri tercinta sepositif mungkin. Selama ini yang kita dengar mungkin banyaknya komentar negatif terhadap orang (terutama mahasiswa) yang berdemo turun ke jalan meneriakkan aspirasi mereka akan ketidaknyamanan kebijakan-kebijakan pemerintah dan masalah lainnya alih-alih dasar demokrasi yang dipegang negara yang memfasilitasi mereka kebebasan untuk bersuara (yang seringnya dengan cara-cara yang sedikit mengganggu fasilitas publik mungkin). Atau komentar-komentar yang tidak enak didengar mengenai keputusan pemerintah dalam hubungan bilateral atau multilateral negara. Memang kita tetap harus kritis menanggapi semua isu-isu di masyarakat terutama yang kaitannya dengan kebijakan-kebijakan pemerintah tapi kritis tidak selalu berarti ketidaksetujuan tanpa solusi konkrit kan?? Kritis masih bisa juga dibarengi dengan analaisis positif dan penghargaan akan nilai-nilai lainnya yang mengimbangi bukan??? Nah,, hal ini yang ditekankan oleh Pak dubes,,, ternyata diluar sana, negara kita sangat disorot perkembangan demokrasinya sebagai yang salah satu yang terbaik,, ternyata diluar sana banyak yang mengangkat jempol atas keteguhan kita untuk tidak tergoyahkan oleh tawaran-tawaran negara adidaya dunia yang dapat mengikis harga diri kita sebagai sebuah bangsa,,, semua bisa terlihat lebih jelas dan lebih baik jika kita mampu mengimbangi penglihatan kita dengan spion kebaikan disebelah kanan kita. Saya Cuma bisa mengangguk-angguk menanggapi pesan penting dari pak dubes tadi. Wah,, saya jadi berapi-api nih,,,

 

bersama bapak Duta Besar Indonesia untuk Pakistan dan pak Kusdiana selaku Atase Kebudayaan

 

Selanjutnya, masih berkaitan dengan bahasan sebelumnya, pak Dubes juga kembali mengingatkan kami untuk senantiasa menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Jangan mudah terpecah hanya dengan sedikit pemberitaan negatif (yang banyaknya dibuat oleh media) sehingga akhirnya kita berperang sesama saudara sendiri, sehingga akhirnya retak-retak kecil menjadi duri dalam daging yang mengakibatkan kehancuran parah beberapa waktu yang akan datang. Masih ingat dengan Bhineka Tunggal Ika?? Ya!! Itu dia yang membedakan Indonesia dengan negara lainnya, Unity in Diversity,,, Indonesia sudah terkenal dengan keberagamannya, dan masing-masing kita sudah sangat lama bergelut dengan keberagaman dalam lingkungan terkecil kita bukan?? Kenapa tidak juga profesional diri kita dalam menanggapi isu-isu seperti ini. Pertahankan lah persatuan dan kesatuan yang telah sejak dulu ditanamkan nenek moyang kita… Menjaganya adalah tugas penting bagi rakyat Indonesia, terutama kita para pemuda yang (katanya) punya kemampuan dan jaringan yang luas untuk bisa mendeliver pesan-pesan ini secara berantai kepada berbagai stake holders di lingkungan kita. Pesan yang benar-benar berharga dan masih terus saya ingat hingga saat ini… Terima kasih pak,, sepertinya saya dan teman-teman lainnya hampir saja lupa akan tugas mulia untuk menjaga persatuan ini…

 

 

Disela-sela perbincangan hangat bersama pak dubes, saya sempat meyelipkan rasa terima kasih saya kepada pihak KBRI secara keseluruhan atas segala kebaikan dalam memfasilitasi saya dan teman-teman. Beliau pun akhirnya menyampaikan bahwa sebenarnya memang tugas KBRI (dimanapun itu) adalah melayani warga negaranya, siapapun itu, tanpa dibeda-bedakan. Bahkan beliau sempat berkata bahwa sudah seharusnya setiap WNI yang akan bertandang ke negeri sebrang untuk melaporkan rencana aktivitas di negara setempat agar terpantau dan mungkin bisa difasilitasi jika memang ada kekurangan yang dibutuhkan. Pak Dubes berkata “Sudah menjadi tugas kami”. Bahkan untuk sekedar backpacking pun seharusnya kita seyogyanya melaporkan diri ke KBRI, email atau telpon mungkin,, atau langsung menuju KBRI setibanya disana. Penting sekali,,, khawatir terjadi sesuatu yang tidak diharapkan, mereka bisa melacak kita dengan cepat. Dan ini pesan penting khususnya buat teman-teman yang berencana melakukan perjalanan ke luar negeri. Oleh karena itu, tidak aneh jika mereka benar-benar maksimal membantu saya dan teman-teman… Lagi lagi terima kasih pak…

 

 

Pertemuan singkat dan benar-benar berharga bersama pak dubes pun berakhir, dan kami kembali ke guest house… Baru sekitar sore hari jam 4, kami akhirnya kembali dihubungi untuk makan siang dikantor KBRI bersama pak Kusdiana dan pak Muladi. (Lagi) percakapan tentang Pakistan pun menjadi topik utama disela-sela makan. Saya banyak bertanya perihal suicide bombing. Jadi sebenarnya setiap hari di Pakistan selalu ada berita bom bunuh diri. Tapi yang perlu diketahui adalah tidak semuanya bermotivasikan jihad dalam rangka membela Islam seperti yang selama ini sering kita dengar. Tidak semua bom bunuh diri atas kemauan si subjek yang mengorbankan diri. Banyak dari mereka yang sebenarnya tanpa sengaja menjadi korban dari pihak-pihak yang tidak benar. Banyak dari mereka yang innocent dan tidak menyadari bahwa mereka dijebak dengan suruhan membawa barang atau mengantarkan barang ke satu tempat yang telah ditentukan dengan imbalan uang atau jaminan kehidupan yang layak bagi keluarga untuk sekedar beberapa hari terlepas dari jeratan kerasnya hidup, yang pada akhirnya janji itu pun tidak ditepati. Banyak dari mereka yang sebenarnya menjadi korban atas motivasi perpolitikan, perekonomian, persaingan bisnis, dan motivasi-motivasi individu atau kelompok tertentu lainnya. Hal lainnya yang perlu diketahui adalah sebenarnya banyak dari masyarakat setempat yang menentang keras adanya bom bunuh diri atas nama Islam, mereka pun banyak melayangkan protes bahwa sebenarnya Islam adalah rahmat untuk seluruh alam yang seharusnya menempatkan keamanan ahli zimmah (non-muslim) dibawah pengawasannya. Semoga teman-teman dapat sedikit terbuka pandangannya terhadap Pakistan…

 

In Front of Indonesian Embassy

 

Sampai akhirnya waktu menunjukkan pukul 9 malam, dan mengharuskan saya untuk mengucapkan selamat tinggal Pakistan. Meski mungkin saya tidak punya cukup banyak waktu dan kesempatan untuk mengeksplor eksotisme Pakistan, tapi saya yakin bahwa sebenarnya  Allah punya rencana lain untuk membawa saya kembali ke Pakistan suatu saat nanti, InsyaAllah,,,

 

 

Pakistan, menjejakkan banyak memori yang membekas dalam ingatan…

Jatinangor, 030111, 00.37



 

Advertisements

One thought on “Semalam di KBRI Pakistan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s