Pensil, Kertas, dan Penghapus


pencil

Ketika diturunkan ke bumi
Aku dibekali pensil, kertas, dan penghapus oleh Tuhan

Tuhan berpesan

“Aku berikan pensil, kertas, dan penghapus bekalmu di bumi. Pensil hanya digunakan untuk menuliskan kesalahan diatas kertas agar kau ingat semua salah yang telah kau perbuat. Sedang penghapus digunakan untuk menghapus coretan kesalahan diatas kertas ini. Jika kau pandai menggunakannya, pensil akan tetap utuh, kertas ini akan tetap putih, dan penghapus tak berkurang sedikit pun.”

Aku bertanya

“Untuk apa Kau berikan pensil, kertas, dan penghapus ini Tuhanku, jika pada akhirnya kau suruh aku untuk tidak menggunakannya? Kalau begitu, lebih baik tidak usah kubawa saja ketiganya, agar tetap putih, utuh, dan sempurna seperti semula.”

Tuhan menjawab

“Kau pasti akan membutuhkannya. Kau pun akan belajar darinya. Cepat kembali dan bawa mereka bersamamu.”

Tuhan pun menurunkan aku ke bumi.

***

Aku kembali…

“Tuhan, aku tak bisa menjaga amanahmu. Aku sering menggunakannya di awal waktu, sampai penuh kertas yang kau beri. Namun, lama kelamaan, aku belajar membersihkannya, menghapusnya hingga hilang semua coretan pensilnya, dan kembali putih ia. Ketika sampai pesan dini-Mu bahwa aku akan segera kembali pada-Mu, aku pun belajar sebisa mungkin tidak mempergunakan ketiganya, dan ini hasilnya, pensil yang telah terpakai hampir setengahnya, kertas lecek yang telah kembali putih, dan penghapus yang tinggal separuhnya. Aku belajar… Aku belajar dari kesalahanku.. Tapi aku tetap saja tidak bisa mempertahankan keutuhan mereka.”

Tuhan menjawab

“Aku tidak pernah mendeskripsikan kesempurnaan dan keutuhan ketiganya kepada-Mu sebelumnya bukan?? Kau tidak sadar bahwa sebenarnya telah kau jaga amanahku akan keutuhan mereka. Meski pensil tak seutuh ketika pertama kuberi padamu, kertas tak lagi semulus semula, atau penghapus yang tak sempurna, sesungguhnya telah kau bawa mereka utuh kepada-Ku. Kau tau kenapa? Karna setengah dari fisik mereka, telah menjelma menjadi pembelajaran dalam keutuhan dirimu. Meski mereka tak lagi utuh, mereka telah membantumu kembali secara utuh pada-Ku.”

Aku pun tertunduk menahan luluhan airmata

“Ahh Tuhan, terlalu indah untuk mudah kumengerti.” Gumamku..

Jatinangor, 101110, 22.32

Advertisements

3 thoughts on “Pensil, Kertas, dan Penghapus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s