Afraid OF CHANGE or Afraid TO CHANGE??


change

Apa sie yang abadi di dunia ini??
Pertanyaan yang sering muncul,,, akibat dari segala hal yang terus berubah setiap waktu,, beda jaman beda trendnya, beda yang digandrungi, beda teknologinya, dan beda2 yang lainnya… Ada yang berubah jadi lebih baik, tapi ada juga yang berubah menjadi negatif (lebih seringnya moral2 anak bangsa),, ckckckk,, Nah, itu dia tuh jawabannya,,, yang abadi ya perubahan itu sendiri,,, Perubahan adalah hal yang paling abadi setelah keberadaan Sang Pencipta,,,

 

Saya jadi inget, dulu saya pernah baca buku di salah satu kedai yoghurt, judul bukunya “Who Moved My Cheessee” karya Spencer Johnson (salah satu favorit saya). Buku ini saya baca karna judulnya menggoda dan tulisannya yang besar2 jadi gak berasa capek duluan bacanya atau dengan kata lain bakalan cepet kelar dibaca. Isinya tentang cerita 2 ekor tikus dan 2 kurcaci yang mencari cheessee sebagai simbol kebahagiaan. Inti dari cerita analogi itu adalah bahwa perubahan itu pasti terjadi, kembali ke kita bagaimana menanggapi perubahan tersebut. Ada orang-orang yang memilih untuk tidak berubah karna terlalu nyaman dengan kondisi sebelumnya dan yang dilakukan hanya terus berharap kondisi akan kembali nyaman seperti sebelumnya (Tipe 1). Ada juga orang-orang yang pada akhirnya memilih untuk berubah perlahan-lahan (Tipe 2), dan yang terakhir adalah orang-orang yang dengan cepat menyesuaikan diri dengan perubahan (Tipe 3).

 

Orang2 tipe 1 adalah mereka yang sebenarnya takut dengan perubahan (AFRAID OF CHANGE), karna perubahan identik dengan hadirnya segala hal baru yang melibatkan kebutuhan waktu untuk beradaptasi kembali. Tapi sebenarnya perubahan juga menjanjikan sesuatu yang lain yaitu KESEMPATAN untuk menjadi bola tolak peluru yang akan melesatkan kita lebih jauh dari tolakan sebelumnya. Namun, kesempatan tersebut mensyaratkan kekuatan lempar lebih besar dari sebelumnya dan mengharuskan kepemilikan kinerja otot yang terlatih dengan baik untuk menjadi lebih kuat menanggung beban yang lebih berat. So… sebenernya bukan hanya takut akan perubahan tapi ketakutan yang lebih mendasar sebenarnya adalah ketakutan untuk melakukan perubahan, ketakutan untuk terlibat dalam proses adaptasi akan perubahan (AFRAID TO CHANGE).

 

Orang2 tipe 2 ini mengingatkan saya pada salah satu dialog dalam serial Dr.HOUSE,,

“You rather imagine that you can escape, instead actually try. Cause if you fail then you’ve got nothing.. So you’ll give up the change of something real, so that you can hold on hope.”

Orang2 yang menolak tawaran akan sesuatu yang nyata karna terlalu lama berpikir membanding2kan kondisi ideal yang diharapkan dengan kondisi nyaman yang sudah pernah ia rasakan. Akhirnya ya itu tadi,, terjebak dalam harapan2 semu yang tidak memberikan satu pun hasil nyata.

 

Orang2 tipe 2 adalah mereka yang pada akhirnya menyadari bahwa mereka harus menyesuaikan dengan perubahan yang ada namun mereka telah menghabiskan terlalu banyak waktu dalam menghitung langkah-langkah untung-ruginya untuk ikut serta dalam proses perubahan yang terjadi. Saya tidak mengatakan bahwa kita tidak boleh melakukan perhitungan-perhitungan dalam melangkah, justru hitung-menghitung merupakan langkah penting sebagai bagian dari perencanaan sebelum kita masuk dalam proses perubahan. Tapi ingat teman-teman, waktu terlalu angkuh untuk menunggu kita mendapatkan perhitungan ideal yang pada akhirnya benar-benar menyampaikan kita pada posisi benar-benar untung. Jadi kita juga harus memasukkan variable batas maksimal WAKTU yang bisa dipakai dalam merampungkan perencanaan langkah-langkah kedepan. Itulah mengapa muncul kosakata RESIKO, perhitungan ideal hampir tidak mungkin untuk bisa kita formulasikan dalam waktu singkat dan oleh karna itu kita juga harus menjadi seorang Risk Taker yang siap memasukkan variabel prediksi A, B, dan C yang menjadi calon hasil dari formula menghadapi perubahan.

 

Orang2 tipe 3 adalah orang-orang yang sudah dengan baik menyikapi kekurangan dari orang2 tipe 2. Yang memasukkan variabel waktu dalam perhitungan sehingga keluar hasil resiko dan konsekuensi A, B, dan C. Sangaaaatt sering kita dihadapkan pada kondisi yang mengharuskan kita untuk berubah akan tetapi tidak selalu kita putuskan untuk menjadi orang tipe 3 dengan segala tantangan dan hal-hal yang menjanjikan didepan sana. Sayang sekalii… kalau masih ingat dengan tulisan saya sebelumnya, seharusnya kita belajar dari keputusan yang mungkin (sedikit) kurang benar sebelumnya dan berusaha untuk terus membuat keputusan yang memberikan hasil yang terus lebih baik. Nah teman-teman, karna perubahan itu abadi dan pasti akan terjadi maka untuk apa berlama-lama?? Kita hanya harus siap perhitungan dan siap mental dengan semua hal yang akan dihadapkan nanti.

 

Too many people get the second chance but they dont appreciate it n finally they end up become a person who (actually) dont deserve the chances.

 

CHANGE is an obvious
So,, dont be afraid to change!!

Jatinangor, 010710, 00.22

 

Advertisements

3 thoughts on “Afraid OF CHANGE or Afraid TO CHANGE??

  1. nice info sis. kira2 gw tipe yang mana ya, hmmm…

    btw nice theme neh. I like it (kyknya dl ada yg bilang gak suka warna putih deh :P)

    • yyeeeee… ask yourself atuh,,, ๐Ÿ˜€
      tipe mana pun semoga bisa secepatnya jadi tipe 3,, ๐Ÿ˜€

      eh eh,, ini kan gak full putih,,
      liatin deh ini semi abu2,, 5-10%nya abu2 bukan putih,,,
      anyway, i like this theme too,, ๐Ÿ˜€

  2. berubahlah, selama hal tersebut bukan sesuatu yang prinsipil,.
    karena perubahan adalah keniscayaan,. tak satu pun tak berubah,.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s