Timor – Timur, Tanah Air Beta…


Dari judulnya mungkin sudah ada yang menyadari bahwa saya akan bercerita sedikit tentang hasil menonton film ‘Tanah Air Beta’,,,
Alasan pertama saya begitu berniat menonton film ini adalah karna saya sempat melihat review film tentang mereka imigran dari Timor-Timur di perbatasan Nusa Tenggara Timur, sedikit menggugah memori saya tentang masa kecil penuh suka duka di Timor sana,, Alasan selanjutnya karna saya memang curious dengan film2 garapan Alenia yang selalu mengusung nilai2 nasionalisme dan patriotisme, yang bisa membuat saya dan penonton lainnya makin bangga menjadi seorang ‘Indonesian’ dan tak jarang pula film-film garapan mereka menampar saya akan nikmat menjadi bagian dari negara BESAR Indonesia dengan semua keindahan alamnya dan dengan semua kelebihannya yang selama ini seringnya tidak dihitung karna kita terlalu sering berfokus pada kekurangan bangsa sendiri…

Oia,,, mungkin ada dari teman-teman pembaca belum tau kalau saya dan Timor-Timur sempat menjadi satu cerita indah bagian perjalanan hidup. Saya menghabiskan masa kecil dengan segala suka duka ceritanya di Timor Lorosae… Film ini menjadi godaan tersendiri bagi saya untuk sejenak kembali mengenang kisah lalu,,,

Film yang dibuka dengan lagu daerah ‘Odobeng’ benar-benar berhasil membawa memori saya kembali ke masa itu, masa ketika saya belajar untuk mengenal indahnya masa kecil, mengenal arti persahabatan, perbedaan, dan mengenal bagaimana menjadikan setiap momen menjadi kenangan yang tak terlupa.

‘Odobeng,, odobeng furak
Husu bot ba maromak hose vila..

Vila vali mai nia laran
Dobeng mesak furak furak dei,,,

Kaer liman, o neon metin – metin
Katak imi hela ami liu lai’

Ahhh,, saya sendiri hampir lupa apa cara penulisannya benar,,,
Lagu yang saya ingat sering dinyanyikan ibu di rumah,, sering terdengar ketika ada peringatan2 khusus tentang Timor-Timur,,, Serta merta saya telpon ibu yang bisa dipastikan akan sangat antusias ketika saya bercerita tentang film ini. Dan tepat seperti dugaan saya, ibu langsung bercerita panjang mengulas kembali tentang masa-masa indah di Timor-Timur tercinta… Ibu berkata “Timor-Timur yang mengajarkan ibu bagaimana ‘mendapatkan’ dan rasanya ‘kehilangan’.” Benar sekali,,, Timor-Timur mengajarkan saya arti kata MENDAPATKAN dan KEHILANGAN,,,

Meski sebenarnya tak dapat dipungkiri banyak kenangan tentang tembak-tembakan di setiap saat terjadi kerusuhan yang tak tentu kapan datangnya,, kenangan tentang betapa jantung saya dan orang tua hampir copot mendadak mendengar deru peluru berdesingan yang mungkin ada tepat digang belakang rumah kami,, kenangan tentang begitu ‘hectic’nya saya dan keluarga melindungi diri dibalik tembok ruangan paling belakang berharap kalaupun ada peluru nyasar tidak akan bisa menembus tembok-tembok itu,, kenangan tentang betapa pentingnya arti telepon disetiap rumah bahkan rumah gribik sekalipun,, kenangan tentang betapa berharganya memiliki simpanan ber-kardus2 mie instan sebagai cadangan makanan ketika kerusuhan terjadi tanpa diduga-duga,, dan kenangan yang kurang pantas untuk diingat lainnya…

Tapi semua itu benar-benar kalah berarti dengan semua kenangan tentang keeratan hubungan dan kekompakan bermasyarakat yang tidak pernah saya temui dilingkungan setelah saya keluar dari Dili Timor-Timur.. Semua benar-benar kalah spesial dengan semua keanekaragaman yang bisa bersanding dengan damainya selama bertahun-tahun… semua kalah unik dengan beragam perbedaan tradisi yang dapat saling memberi toleransi satu dan lainnya,, semua kalah hebat dengan rasa kebersamaan yang terus terjalin bahkan sampai dengan 11 tahun setelah semua berakhir dan kembali membawa lara menuju tempat asal masing-masing… Berakhir pada pertengahan tahun 1999,, Yang memisahkan saya dan teman-teman masa kecil terbaik saya… Yang memisahkan orang tua saya dengan sahabat terbaik mereka,, Yang memisahkan kami dengan tradisi dalam segala keterbatasan yang terjalin apik dan begitu sinergis,, Yang memisahkan kami dengan semua kebiasaan bersama pantai, labarik, nasi kotor, babi, panas, dan lainnya dalam keseharian kami,,

Timor-Timur mengajarkan saya dan teman-teman kecil saya arti kata BERJUMPA yang tak pernah lepas bersanding dengan kata BERPISAH… Saat terakhir saya masih memiliki kebersamaan dalam Kapal DOBONSOLO yang akhirnya benar-benar menyebarkan kami hampir diseluruh Indonesia…
Tapi kemudian,, Timor-Timur pula lah yang menjadikan kami kembali berkumpul dan akan berjumpa dalam kesempatan kedua yang lebih baik,,,
Yang saya tau, Timor-Timur memberi kenangan yang TIDAK BIASA yang juga menghasilkan orang-orang yang TIDAK BIASA,,, =D

Bonita,, bonita,, bonita,,
Ainina bonita Tebes…

Timor-timur yang cantik (bonita),, Obrigado… Terimakasih atas semuanya,,

Several things just not meant to be counted compare with all the good memory left for the rest of the story..


Jatinangor, 230610, 03.34

Advertisements

6 thoughts on “Timor – Timur, Tanah Air Beta…

  1. wah mantap juga tulisanx…
    kebetulan gw lom nonton jadi lom bisa memberi komentar tentang film nih…
    tp satu yg g bkal gw lupa coz gw lahir di dili n besar jg d dili sampe merdeka bru keluar…

    teman2 gw yang asli timles jg pada ajak nonton disini tp lom tau kapan,,
    hehehehhe

    salam sesama labarik timles
    hehehehhehe

    • wahhhh harus nonton banget nie sebagai korban perang tim2,,,
      mungkin emang g terlalu klimaks sie tapiii feel tim2 dengan semua lagu daerahnya dapet bangetttmmmmm

      salam labarik!!!!
      hohohooooo…..
      =D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s