Biar Allah Yang Menentukan


Pagi ini berbeda dari pagi biasanya.. Pagi ini dibuka dengan sms seorang teman, kurang lebih sperti ini

“Aslm. Histor apakabar? Bagaimana UPnya??Semoga dilancarkan..”

Terharu,,, >____<

Sama seperti sms pembuka hari beberapa hari yang lalu dari akhwat FPIK yang menanyakan hal serupa, ada pula yang memberikan semangat pagi untuk tetap terus bertahan dalam masa-masa pembuatan skripsi ini. Benar-benar tersentuh hanya dengan sms singkat seperti itu, karna memang dalam masa-masa labil skripsi, sms tersebut berarti banyak buat saya.

Saya pun menjawab “Alhamdulillah baik. Masih revisian aja. Yang penting sudah berusaha maksimal, biar Allah yang menentukan waktu yang tepat.”

Saat itu juga saya terhenyak setelah merangkai sms balasan. Yaa,,, saya sudah berusaha, sisanya pasrahkan saja kepada Allah yang Maha mengetahui segalanya. Saya jadi ingin bercerita sedikit tentang skripsi saya. Sudah diajukan sejak 3 bulanan yang lalu, tapi karna terpotong observasi awal kedaerah penelitian, terpotong sempat ada acara yg menyita waktu selama 2 minggu, dan karna faktor dosen pembimbing yang juga PD I walhasil sampai sekarang pun belum bisa seminar. Alhamdulillah revisi terus menuju titik akhir meskipun kadang minggu ini saya berikan dan baru bisa di follow up 2 minggu selanjutnya. Awalnya saya sempat menyesali segala hal yang tidak sesuai target, kadang semangat yang sudah sampai ke ubun-ubun pun terpaksa harus turun dengan bebasnya karna memang kondisi di lapangan yang tidak mengizinkan terlaksananya rencana dengan lancar.

Ah,, entah mengapa saya masih saja terus bersyukur,, saya ingat dulu saya pernah berkata “Ihh,, pengen ngerasain perjuangan skripsi, pasti seru deh,,” dan yang Allah lakukan hanya mengabulkan apa yang saya harapkan,, hati-hati saja dengan perkataan. Ya,, sekarang entah sudah ujian skripsi keberapa yang menurut saya masih jauh dari perjuangan teman-teman yang telah melewati step ini,,

“Kejayaan terbesar kita bukanlah karna kita tidak pernah jatuh, tetapi pada kebangkitan di setiap kita jatuh” Confusius

Nah tuh, disindir lagi sama Confusius,, bukan pernah atau tidaknya kita jatuh, atau seberapa sering kita terjatuh tapi seberapa sering kita bangkit setelah terjatuh,,, Jika saja kita tidak siap untuk jatuh bangun dalam arena perjuangan kompetisi kelulusan, ya jangan pernah berharap untuk lulus.. Dan jika kita tidak siap untuk merasakan penderitaannya, ya jangan berharap merasakan bahagianya,,, aduh,,, jadi malu,,, bener-bener gak ada alasan untuk gak bangkit kembali dan terus memperkokoh kaki agar terus kuat berdiri dan tidak terjatuh lagi.

Kata Allah juga kan tidak akan diubah nasib suatu kaum sebelum kita sendiri yang mengubahnya. Dan untuk menjadi lebih baik, untuk bisa maju satu langkah, dibutuhkan upaya yang tidak sembarangan.. Jadi inget juga obrolan tentang 3 pilihan besar di masa depan saya, obrolan ringan tapi sarat mana dengan seorang teman yang hampir tiap hari saya telpon (Maaf yaa,, hehehe)… Saya sempat bingung akan pilihan yang saya jalani, saya pun berkata “Lakukan yang terbaik saja deh ya,, ntar what come first will be my choice to do first.”. Saya sempat mengkhawatirkan pendapat orang akan langkah yang akan saya lakukan kedepannya, dan saya sempat mengkhawatirkan kesesuaiannya dengan mimpi-mimpi saya. Namun, setelah cerita panjang lebar tentang segala kemungkinan, teman saya berkata “Yang pasti, jangan sampai pilihan itu dibuat karna makhluk ya histor yaa..” Astagfirullah,, kena banget,,, tepat ke ulu hati!! bersyukur sekali saya dianugerahi teman-teman yang senantiasa mengingatkan saya ketika saya baru saja akan berjalan sedikit menyimpang dalam niatan,, Terimakasih Allah,,,

Kata-kata teman saya itu kembali mengingatkan semua rencana-rencana hidup yang sudah saya buat. Kita memang sangat dianjurkan untuk menata perencanaan dengan sebaiknya untuk meminimalisir galat (eror) yang mungkin terjadi, tapi ya itu tadi,, rencanakan sebaik-baiknya, usahakan semaksimal mungkin, tapi tetap hasilnya pasrahkan pada Allah,, Allah yang menentukan segala yang terbaik sesuai dengan kebutuhan kita. Kalau memang konsep ini sudah bisa dipahami dengan baik, insyaAllah kita tidak akan pernah berlama-lama dalam rasa kecewa yang hanya menghabiskan energi. Kita kan ditugaskan didunia selain untuk beribadah kepada Allah juga untuk belajar dan berusaha. Selama sudah melakukan itu ya sudah,, hasil mah pasrahin aja, yang penting jaga prosesnya semurni mungkin, karna hasil juga sangat bergantung dari proses yang kita jalani…

We know how important sunshine after the darkness covered…

Maaf ya kalo semi curhat,, semoga bermanfaat

Bismillah…

Jatinangor, 230510, 09.05

Advertisements

2 thoughts on “Biar Allah Yang Menentukan

  1. subhanallah…. ceritanya sama banget ma apa yang aku alami…, aku malah hampir putus asa dengan skripsiku,, tapi orang2 terdekatku yang selalu mengingatkan ku tentang tanggung jawab, yaaa… tanggung jawab dari amanah orang tuaku… 🙂
    semangaadz… semangaaadz,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s