Halaqoh dan Saya


Bismillahirrahmaanirrahiim…

Hanya Allah semata-mata alasan yang bisa membimbing jari ini untuk menyampaikan apa yang bisa dimanfaatkan bagi yang lain.

Alhamdulillah…

Lagi lagi,,, Allah tak henti-hentinya memberikan kenikmatan dalam tiap detik waktu yang saya jalani. Hari ini pun tercurah manfaat yang senantiasa saya syukuri atas aktivitas saling memberi manfaat. Cerita berawal dari kemarin pagi ketika seorang teman akrab meminta saya untuk menjadi salah satu kontributor dalam talkshow di acara “HOLIC” (HalaqOh Lebih Indah dan Ceria). Saya yang masih memiliki banyak keterbatasan ini sempat kaget dan bertanya kenapa saya bisa diundang ke acara tersebut. Mungkin karna pembicara utama berhalangan hadir ya,, wallahuallam, tapi saya sangat mensyukuri kesempatan ini.

Dengan sedikit deg-degan dan grogi, serta takhenti2nya meminta Allah untuk membimbing lisan saya, saya pun mengiyakan tawaran tersebut. Dan setelahnya berondong pertanyaan terkait persiapan materi saya tanyakan. Saya takut tidak dapat memenuhi keinginan teman yang mengundang, karna sampai saat mengisi pun saya masih merasa jauh dari pantas untuk berada di depan teman-teman yang sebagian saya kenal baik dan saya tau jauh lebih baik dari saya. Berbekal harapan siapa tau apa yang saya sampaikan belum pernah mereka dapatkan, saya pun melenggang dengan kaki sedikit gemetar ke talkshow tersebut.

Satu hal yang disampaikan teman saya (yang juga panitia), saya diharapkan bisa menyampaikan pentingnya halaqoh dan korelasinya dengan prestasi yang pernah saya raih. Saya sempat terdiam dan menyelami diri (hal yang selalu saya lakukan untuk mencari jawaban dari dalam diri saya), terus mencari dan menelisik

“Apa alasan saya mengikuti halaqoh??”

“Kenapa saya bisa bertahan sampai hari ini untuk tetap Liqo?”

“Apa yang sudah digoreskan halaqoh dalam perjalanan hidup saya?”

Dan ternyata, tanpa harus berlama-lama, dengan mudah saya temukan jawabannya. Ternyata memang halaqoh berperan besar dalam hidup saya sampai-sampai tanpa harus berpikir panjang, cepat saya dapatkan posisi pentingnya dalam hidup saya beberapa tahun kebelakang. Ternyata besar sekali peran halaqoh. Halaqoh sebagai media pengingat untuk menjaga nilai-nilai Islam dan untuk terus mengingatkan akan hubungan kita dengan Allah (Habluminallah) maupun sesama manusia (Habluminannas).

Halaqoh bagi saya adalah media pembelajaran dan laboratorium pembentukan diri saya yang lebih profesional dan produktif. Dari rutinitas pekanan halaqoh, saya dapatkan nilai-nilai profesonalitas yang dibutuhkan dalam keprofesian maupun diantara kehidupan bermasyarakat. Nilai-nilai tersebut diantaranya

  1. Nilai kedisiplinan dengan ketepatan waktu yang diberlakukan dalam setiap pertemuan pekanan, jika tidak bisa tepat waktu ya siap-siap saja mendapatkan konsekuensi iqobnya berupa hafalan surat, tugas membaca buku, ataupun infaq dan sodaqoh.
  2. Nilai kepedulian dalam kelompok kecil yang secara tidak langsung diharuskan mengetahui kondisi terkini saudara satu halaqoh.
  3. Nilai tanggung jawab untuk tidak menghindar dari tugas-tugas yang sudah diberikan dan berusaha untuk memberikan yang terbaik dari yang sudah ditugaskan, yang sebenarnya bermanfaat untuk menambah kafaah kita pribadi.
  4. Nilai keberanian dalam menerima tantangan pengembangan diri sebagai tugas pribadi. Contohnya akang/teteh seorang penulis menantang adik-adik dalam halaqohnya untuk menyelesaikan penulisan satu buah buku dalam kurun waktu yang ditentukan.
  5. Nilai produktivitas untuk terus bergerak agar tidak bau seperti air yang lama tergenang.
  6. Komitmen dan konsistensi diri sejak awal saya bertahan hingga hari ini untuk tetap menjalankan rutinitas liqo.
  7. Manajemen hati untuk tidak mudah bangga, sombong, dan terbang terlalu tinggi atas pencapaian hidup yang telah diraih, namun tidak pula untuk lupa bersyukur atas semua yang telah di berikan oleh Allah. Manajemen hati untuk senantiasa menjaga peruntukkannya hanya untuk Allah yang menjadi tujuan hidup di dunia.
  8. Manajemen diri untuk tidak mudah menjauh dari Allah ketika jatuh, untuk tidak  menyerah jika menghadapi kegagalan, untuk tidak lupa berserah ketika sudah maksimal usaha yang dilakukan. Manajemen diri dalam penyeimbangan duniawi dan ukhrawi.
  9. Dan masih banyak lagi imbas positifnya semenjak saya mengenal halaqoh…

Dari keseluruhan proses penempaan diri yang saya rasakan sejak awal hingga hari ini, ada satu hal yang saya temukan, bahwa ternyata mau tidak mau dan suka tidak suka, tanpa saya sadari saya berada dalam proses pengembangan diri dan penemuan potensi. Tanpa saya sadari saya dibentuk untuk menjadi BESAR, untuk tidak lagi hanya menjadi seorang Historina salah seorang mahasiswi FPIK UNPAD, untuk tidak lagi berkapasitas biasa, untuk menjadi seseorang yang bahkan jauh lebih besar dari yang pernah saya bayangkan. Halaqoh memang bukan satu-satunya faktor tapi halaqoh mengambil peran dominan dalam proses pembentukan dan penemuan jati diri saya.

Peran halaqoh benar-benar terasa ketika saya harus melangkah pergi meninggalkan Indonesia dengan segala kondusifitas yang dihamparkan. Demi menambah kapasitas diri, saya raih uluran tangan kesempatan menempa diri di luar sana. Satu sampai dua bulan sebelumnya, tak henti-hentinya saya pesankan kepada teman-teman terdekat saya untuk senantiasa membantu merecharge saya yang akan berada jauh dari nilai-nilai Islam dengan mengirimkan email-email tausiyah dan sejenisnya. Saya benar-benar sempat tidak karuan, selain memikirkan dana yang harus dicukupi sebelum keberangkatan, saya juga sangat mengkhawatirkan kondisi ruhiyah yang biasanya terjaga dengan rutinitas halaqoh.

Sampai tiba saatnya saya harus benar-benar melangkah pergi mengadu nyali berpetualang di negeri sebrang. Apa yang saya takutkan pun terjadi!! Kekhawatiran saya membuahkan hasil. Saya benar-benar merasa kekeringan dengan tidak adanya asupan ransum-ransum energi ruhani yang biasanya selalu terfasilitasi oleh lingkungan saya. Saya sempat benar-benar khawatir. Tapi ternyata Halaqoh benar-benar memberikan manfaat mendasar dari dalam diri saya. Kesadaran diri muncul seketika untuk terus bisa menjaga diri dan menguatkan pertahanan dari godaan keduniawian. Saya pun berinisiatif untuk terus mencari sendiri air-air penyejuk ruhani. Tapi tetap saja ternyata beda rasanya melalui media dengan berinteraksi langsung dan saling berbagi manfaat antar teman. Ada energi yang terpancar, ada frekuensi yang berbeda ketika bisa bertatap muka. Saya benar-benar merindukan halaqoh sebagai kayu-kayu yang menjadi media pagar hidup saya.

Ternyata halaqoh memang berperan besar dalam menjadi saya seperti saya yang sekarang ini. Meskipun saya akui saya masih banyak memiliki kekurangan. Tapi bukankah Allah lebih suka mereka yang senantiasa bertaubat karna tau dirinya masih banyak melakukan dosa?? Semoga kita semua mendapatkan kemurahan dari Allah dalam melembutkan hati untuk senantiasa terus belajar dari semua yang sempat singgah dalam lembaran hidup sesaat ini.

Kan kuungkap rasa yang terindah

Tentang berkembangnya cinta

Yang semerbak wangi dalam jiwa

Yang kekal abadi slamanya

Hanyalah untuk Allah kan kupersembahkan

Cinta yang tertinggi dan termurni

Yang tumbuh dalam nurani

Hanyalah untuk Allah slalu kusandarkan

Segala pengharapan dan doa

Beri daku cahyamu

GRADASI – Persembahan Cinta

Jatinangor, 220510, 22.28

*Tanpa direquest, saya memang akan menuliskannya*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s