HIJRAH


Telah kuputuskan untuk selalu taat hanya satu kepada Alloh

Bukan pada dunia yang membuatku lupa dan terjebak nafsu durjana

Sungguh aku ingin masuk surga, tak ingin neraka yang menyala

Lalu aku pun berubah tinggalkan masa laluku yang gulita

Berpakaian Islami walau dilarang mami namun Alloh tetap dihati.

Sungguh aku ingin masuk surga, jadi aku ingin insyaf saja..

**

Semua kawanku bilang

Aku tak lagi menawan

Rambut tak kelihatan

Muka tanpa polesan

Body kupun tidak dipamerkan

Sholatku jadi rajin nyontekpun kutinggalkan mengkaji Qur’an kegemaranku

Lalu doiku lari, kawan-kawanku pergi, namun Alloh tetap dihati.

Sungguh aku ingin masuk surga, jadi aku ingin insyaf saja..

Lalu aku pun berubah tinggalkan masa laluku yang gulita

Berpakaian Islami walau dilarang mami namun Alloh tetap dihati.

Sungguh aku ingin masuk surga, jadi aku ingin insyaf saja..

BESTARI – HIJRAH

Mengingat kembali masa-masa SMA saat pertama kali saya memutuskan untuk berhijrah dan menutup aurat dengan membalut seluruh tubuh lebih sempurna dan menyisakan telapak tangan serta wajah atas nama pelaksanaan perintah Allah.

Seperti biasanya, hari sabtu tiap bulannya selalu ada kajian yang difasilitasi oleh sekolah saya dengan mengundang ustad dan ahli agama dari penjuru Indonesia dan memberikan sedikit kesejukan ditengah kesibukan aktivitas belajar, berorganisasi, dan berkreasi menjahili guru & teman2. Sayang sekali bukan salah satu materi kajian mingguan ini yang akan saya bahas melainkan aktivitas saya pada salah satu minggu menjelang puasa semester dua kelas X.

Tidak jauh berbeda dari banyak siswi SMA kebanyakan yang sedikit jengah dengan ceramah-ceramah keagamaan, saya pun lebih memilih untuk ngobrol dan membaca hal-hal yang menurut saya pada saat itu jauh lebih menarik daripada penyampaian materi monoton dimimbar sana. Kesukaan saya akan membaca pun membuat saya bermuara pada salah satu bacaan yang acapkali saya berikan porsi waktu untuk sekedar menjenguk cerpen-cerpen menarik. Bacaan itu adalah majalah ANNIDA yang pada umumnya menjadi bacaan anak ROHIS dijamannya.

Berawal dari membaca ANNIDA pada kajian sabtu pagi tersebut yang biasanya langsung tertuju pada halaman yang menunjukkan cerpen di daftar isi. Tak biasanya, kali itu lembar demi lembar saya susuri satu persatu. Sampai pada ekor mata yang sekilas menangkap tulisan yang berjudul “PEREMPUAN YANG TIDAK AKAN PERNAH MENCIUM BAU SURGA”. Saat itu hati tersentak untuk mencuri waktu membaca cuplikan singkat tersebut, dan disitu dijelaskan bahwa terdapat 2 wanita yang tidak akan pernah mencium bau surga :

  1. Wanita yang tidak menutup auratnya (menggunakan khimar atau yang biasa juga disebut kerudung atau jilbab (red-penutup kepala hingga junub [kantung (terletak didada)]).
  2. Wanita yang memakai punuk unta di kepalanya ([red-sanggul] dengan asumsi sanggul diambil dari rambut orang yang sudah meninggal).

(Ketika itu) Saya bukan orang yang memiliki ketertarikan khusus dengan Islam dan segala perintah Allah; saya bukan orang yang mudah tersentuh saat diberikan nasihat untuk menggunakan jilbab, solat tepat waktu dan sebagainya; dan belum pernah sekalipun terlintas dalam pikiran saya untuk menggunakan jilbab secara permanen. Hal ini mungkin diperngaruhi pula oleh background masa kecil saya yang tumbuh di daerah Timur dengan lingkungan heterogen kental dan toleransi beragama yang tinggi. Tapi entah kenapa pada saat itu, kala itu, serta merta, hati begitu terhantam keras atas pernyataan tersebut.

Wallahuallam hanya karna Hidayah ALLAH lah pada saat itu saya sampai bisa begitu tersentuh dan berpikir keras. Saat itu saya berpikir, bagaimana mungkin saya bisa masuk surga dan merasakan sedikit nikmat surga yang tak terbayangkan oleh akal itu, sedangkan mencium baunya saja saya sudah tidak layak. Bau surga yang konon katanya tercium sejauh 1000 tahun cahaya!!! Jangankan saya yang memang ibadah wajibnya saja tidak lengkap, mereka yang bahkan semua sunnah-sunnahnya telah terlaksana pun tidak layak mencium bau surga karna belum menutup auratnya.

ASTAGFIRULLAH!!!

Ya Allah,,, selama ini saya hidup ternyata bahkan untuk mendapatkan hak hanya mencium bau surga yang berjarak begituuuuu jauh dari surga yang sebenarnya saja tidak mendapatkan izin. Saat itu, tanpa pikir panjang dimulailah perjuangan saya menutup aurat.

Ada yang pernah berkata selama apa yang kita kerjakan atas nama tujuan mendekati Allah insyaALLAH akan selalu dimudahkan. Tapi ternyata ada hal yang kita lupakan, bahwa kita mengerti suatu hal dikatakan MUDAH ketika ada perbandingannya yaitu KESULITAN. Allah tidak pernah berbohong akan memudahkan, tapi kemudahan yang dirasakan setelah kesulitan menghampiri. Dan tentu saja, perjalanan menutup aurat ini SAMA SEKALI tidak mudah!! Perlu perjuangan yang cukup menghabiskan energi. Tapi ingat, bahwa ternyata penghargaan akan sesuatu akan lebih terasa dan akan lebih tinggi jika dibandingkan dengan perngorbanan yang telah kita berikan untuk memperolehnya. Maka, saat itu saya yakin bahwa semua ujian yang diberikan dalam sedikit langkah tertatih mendekati Allah hanya agar kebahagiaan akan pencapaiannya lebih terasa!!

Dimulai dari menggunakan baju sumbangan dari ROHIS untuk yang baru berjilbab, izin orang tua serta melengkapi pakaian sehari-hari yang dapat menutup aurat, sampai dengan menyempurnakan sikap dan perilaku hingga bisa dicirikan sebagai seorang muslimah yang menjaga izzahnya. Sejak hari pertama kali saya berjilbab hingga saat ini, Allah terus memberikan nikmatnya untuk terus belajar menyempurnakan dan menyamankan diri dengan pakaian terbaik yang telah Allah titahkan untuk ciptaannya yang begitu indah. Allah hanya ingin kita untuk terus IQRA’,, membaca,,, mempelajari,, dan hakikat dari kata BELAJAR adalah MENJADI LEBIH BAIK. Allah ingin kita untuk terus lebih baik dengan terus belajar.

Sudah lebih baikkah teman-teman hari ini???

Karna seharusnya sebagai manusia yang masih diberikan kesempatan HIDUP, kita sepatutnya terus belajar dalam rangka memperbaiki diri…

Terima kasih ANNIDA… Terima kasih Allah, telah kembali mentarbiyah Histor yang bukan apa-apa dihadapan-Mu ini…

Dalam suasana dini hari yang begitu sarat dengan makna dan perenungan diri,…

Jatinangor, 220410, 03.20

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s